banner DPRD Makassar 728x90
Berita

Deretan Fakta Pesawat IAT PK-THT ATR 42-500 Jatuh di Bulusaraung Maros Sulsel

Avatar of Sulsel Times
29
×

Deretan Fakta Pesawat IAT PK-THT ATR 42-500 Jatuh di Bulusaraung Maros Sulsel

Sebarkan artikel ini
Pesawat IAT PK-THT ATR 42-500 di Bulusaraung Maros 17 Januari 2026.
Pesawat IAT PK-THT ATR 42-500 di Bulusaraung Maros 17 Januari 2026. Dok ist.
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com Maros, Senin, 19/01/2026 — Pesawat Indonesia Air Transport atau IAT berregistrasi PK-THT tipe ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak saat fase pendekatan untuk mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, pada Sabtu, 17/01/2026.

Pesawat kemudian diketahui jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan.

banner DPRD Makassar 728x90

Ringkasnya…
  • Pesawat ATR 42-500 IAT PK-THT hilang kontak lalu jatuh di Gunung Bulusaraung
  • KNKT mengkategorikan insiden sebagai CFIT controlled flight into terrain
  • Sebanyak 10 orang berada di dalam pesawat terdiri dari 7 kru dan 3 penumpang KKP
  • Satu jenazah korban telah ditemukan di jurang sekitar 200 meter dari puing pesawat
  • Black box telah ditemukan dan menjadi kunci investigasi lanjutan KNKT
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT menyatakan insiden ini masuk kategori Controlled Flight Into Terrain atau CFIT.

Di dalam pesawat terdapat 10 orang yang terdiri dari 7 kru dan 3 penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan atau KKP.

Hingga Senin, 19/01/2026, operasi SAR gabungan masih berlangsung, satu jenazah telah ditemukan, dan kotak hitam atau black box telah diamankan untuk menjadi kunci investigasi.

Kronologi Hilang Kontak hingga Jatuh di Bulusaraung

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dengan registrasi PK-THT terbang dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, pada Sabtu, 17/01/2026.

Pesawat dilaporkan lepas landas sekitar pukul 08.08 WIB.

Jadwal kedatangan tercatat sekitar pukul 12.22 WITA.

Saat memasuki fase pendekatan, pesawat berada di ketinggian sekitar 5.300 kaki ketika Makassar Radar mengarahkan pesawat mengintersep ILS Runway 21 melalui titik Openg sekitar pukul 12.23 WITA.

Dalam pemantauan, pesawat terpantau melampaui titik tersebut.

Pengatur lalu lintas udara kemudian memberi instruksi korektif direct ke final Runway 21.

Pilot sempat meminta rute menuju titik KABIB.

Namun posisi pesawat diketahui sudah melewati titik itu.

ATC lalu mengarahkan heading 240 derajat.

ATC kemudian melanjutkan heading 250 derajat agar pesawat kembali mengintersep jalur final Runway 21.

Kontak radar dan radio dilaporkan terputus sekitar pukul 13.17 WITA.

Petugas melakukan pemanggilan ulang melalui frekuensi pendekatan dan menara.

Panggilan ulang tidak mendapat respons.

Fase darurat kemudian dinyatakan.

Unsur pencarian dan pertolongan dikerahkan menuju area koordinat terakhir pesawat terekam radar.

Sejumlah pendaki di kawasan puncak Gunung Bulusaraung melaporkan melihat dan mendengar momen pesawat menabrak lereng.

Mereka menyebut suara pesawat terdengar rendah sebelum muncul ledakan di salah satu sisi tebing.

Seorang pendaki menuturkan pada rentang sekitar pukul 13.30 hingga 13.45 WITA suara mesin terdengar semakin dekat dari arah lembah.

Sesaat kemudian terlihat kilatan dan kepulan asap dari lereng mengarah ke area jurang yang diduga menjadi titik jatuh badan pesawat.

Saksi menyebut peristiwa berlangsung sangat cepat dan membuat mereka terkejut.

Informasi visual itu dilaporkan ke pihak berwenang melalui jalur komunikasi yang tersedia di pos pendakian.

Pesawat ditemukan dalam kondisi puing terpencar di lereng selatan puncak.

Sebaran serpihan meliputi bagian jendela, badan, hingga ekor.

Perbedaan titik temuan memperkuat dugaan benturan berenergi tinggi yang membuat struktur pesawat terpecah.

Deretan Fakta Teknis ATR 42-500 PK-THT dan Arah Investigasi

Manifest akhir pesawat mencatat 10 orang berada di dalam pesawat.

Data awal sempat menyebut 11 orang.

Jumlah kemudian dipastikan 10 orang setelah salah satu pilot bernama Captain Sukardi disebut tidak ikut dalam penerbangan.

Tujuh kru yang tercatat adalah Captain Andy Dahananto sebagai pilot in command.

Kopilot tercatat Muhammad Farhan Gunawan.

Engineer on board tercatat Restu Adi P.

Engineer on board tercatat Dwi Murdiono.

Flight operation officer tercatat Hariadi.

Dua pramugari tercatat Florencia Lolita dan Esther Aprilita S.

Tiga penumpang adalah pegawai KKP bernama Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan ketiganya menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan dari udara di wilayah perbatasan Indonesia.

“Mereka bertugas dalam misi pengawasan sumber daya kelautan di zona perbatasan,” kata Sakti Wahyu Trenggono, Minggu, 18/01/2026.

Pesawat yang mengalami kecelakaan adalah ATR 42-500 produksi tahun 2000.

Nomor seri pesawat disebut 611.

Mesin yang digunakan disebut Pratt and Whitney Canada PW-127E dengan daya sekitar 2.160 shaft horsepower per mesin.

ATR 42-500 dikenal sebagai pesawat turboprop regional untuk rute jarak pendek.

Karakter umum tipe ini antara lain ketinggian operasi maksimum sekitar 7.620 meter.

Kecepatan jelajah disebut mendekati 556 kilometer per jam.

Jarak tempuh disebut sekitar 2.000 kilometer.

Konfigurasi kursi disebut sekitar 46 penumpang di luar kru.

Panjang badan disebut sekitar 22,67 meter.

Bentang sayap disebut sekitar 24,57 meter.

Lokasi jatuh berada di lereng Gunung Bulusaraung dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Gunung Bulusaraung berada di bentang alam karst dengan kemiringan terjal dan tebing batu gamping.

Ketinggian Gunung Bulusaraung disebut sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut.

Data navigasi menyebut titik hilang kontak berada di sekitar 04°57’ Lintang Selatan dan 119°43’ Bujur Timur.

Ketinggian saat itu disebut sekitar 4.000 kaki atau kurang lebih 1.300 meter.

KNKT menyatakan insiden ini masuk kategori Controlled Flight Into Terrain atau CFIT.

Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menyebut pesawat masih dalam kondisi dapat dikendalikan pilot saat menabrak lereng.

“Insiden ini kita kategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain,” kata Soerjanto Tjahjono, Minggu, 18/01/2026.

CFIT merujuk pada kondisi saat pesawat masih dapat dikendalikan namun tetap menabrak permukaan bumi atau rintangan.

Kategori ini berbeda dari kecelakaan yang terjadi ketika pesawat sudah kehilangan kendali akibat kerusakan berat.

Kotak hitam pesawat dilaporkan ditemukan pada Minggu, 18/01/2026.

Lokasi penemuan disebut tidak jauh dari konsentrasi puing di lereng Bulusaraung.

Kotak hitam biasanya terdiri dari Flight Data Recorder dan Cockpit Voice Recorder.

Flight Data Recorder menyimpan parameter penerbangan seperti ketinggian, kecepatan, heading, performa mesin, dan sikap pesawat.

Cockpit Voice Recorder merekam percakapan kokpit, komunikasi dengan ATC, serta bunyi peringatan di menit dan jam terakhir sebelum kecelakaan.

Kepala KNKT menekankan kotak hitam menjadi kunci untuk mengurai faktor teknis maupun faktor manusia.

“Kami menitipkan secara khusus kepada tim di lapangan untuk mencari kotak hitam,” kata Soerjanto Tjahjono, Minggu, 18/01/2026.

Tim SAR gabungan melaporkan temuan satu jenazah pada Minggu, 18/01/2026 sekitar pukul 14.20 WITA.

Jenazah ditemukan di jurang sedalam kurang lebih 200 meter di dekat puing utama.

Korban berjenis kelamin laki-laki dan dievakuasi melalui jalur pendakian untuk proses identifikasi lanjutan.

Kepala Basarnas Makassar menyebut lokasi korban berada di antara serpihan pesawat yang terpencar di dinding jurang.

“Korban ditemukan di kedalaman sekitar dua ratus meter, di area yang juga terdapat potongan badan pesawat,” ujarnya, Minggu, 18/01/2026.

Medan operasi disebut ekstrem karena tebing terjal, batu karst licin, dan cuaca yang berubah cepat.

Hujan lebat dan kabut tebal membuat jarak pandang dilaporkan hanya sekitar 5 hingga 10 meter.

Beberapa rencana penurunan vertikal sempat ditunda demi keselamatan personel.

Operasi pencarian melibatkan ratusan personel gabungan dari Basarnas, TNI AU, Polri, BPBD, relawan, dan PMI.

Jumlah personel yang dikerahkan disebut berada pada kisaran 400 hingga 500 orang.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar Andi Sultan menyebut pencarian dilakukan lewat jalur udara dan jalur darat.

“Jalur pendakian tetap menjadi pilihan utama karena relatif lebih aman meski memakan waktu,” kata Andi Sultan, Sabtu, 17/01/2026.

Pemantauan udara dilakukan dengan helikopter dan drone untuk mengidentifikasi sebaran puing serta potensi titik korban.

Sistem tali dan tandu disiapkan untuk evakuasi darat.

Opsi hoist helikopter dipertimbangkan bila cuaca dan titik pendaratan dinilai aman.

Manajemen Indonesia Air Transport menyebut pesawat sempat mengalami gangguan teknis pada Jumat, 16/01/2026.

Gangguan disebut berkaitan dengan komponen mesin dan sistem teknik pesawat.

IAT menyatakan siap menyerahkan logbook perawatan dan catatan teknis kepada KNKT.

“Kami akan kooperatif dan membuka semua data pemeliharaan pesawat yang dibutuhkan penyidik,” kata Direktur Utama IAT, Sabtu, 17/01/2026.

Di sisi lain, ada dorongan agar audit menyeluruh dilakukan terkait aspek pemeliharaan dan kelayakan pesawat yang berusia lebih dari dua dekade.

Audit tersebut disebut penting untuk mengevaluasi standar inspeksi dan prosedur perawatan turboprop di Indonesia.

Indonesia Air Transport dikenal sebagai perusahaan jasa penerbangan charter yang berdiri sejak 1968.

Perusahaan ini disebut melayani penerbangan untuk sektor minyak dan gas, pertambangan, korporasi, serta penerbangan VIP.

IAT tercatat melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2006 dengan kode saham IATA.

Armada yang disebut dioperasikan mencakup ATR 42-500, jet bisnis Embraer Legacy 600, dan helikopter Airbus EC 155 B1.

Hingga Senin, 19/01/2026, KNKT menyatakan penyelidikan masih tahap awal.

KNKT menyebut belum ada kesimpulan final mengenai penyebab kecelakaan.

Ruang lingkup penyelidikan meliputi data radar, informasi cuaca, transkrip komunikasi pilot dengan ATC, serta pembacaan data Flight Data Recorder dan Cockpit Voice Recorder.

Analisis puing dan pola kerusakan struktur juga dipakai untuk merekonstruksi detik terakhir penerbangan.

Pencarian terhadap sembilan korban lainnya masih dilanjutkan.

Operasi dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan personel di medan karst yang terjal dan sering tertutup kabut.

Kecelakaan ini kembali menyoroti pentingnya disiplin keselamatan penerbangan, mulai dari perawatan pesawat, ketepatan navigasi, hingga prosedur operasi di wilayah bertopografi rumit.

Transparansi investigasi dan kelengkapan data dari kotak hitam menjadi penentu agar rekomendasi keselamatan ke depan bisa disusun berbasis temuan yang kuat.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow
banner Pemerintah Kota Makassar 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *