Advertorial

Bantuan Tempat Sampah DLH Dukung SD Inpres Layang Adiwiyata

Avatar of Sulsel Times
0
×

Bantuan Tempat Sampah DLH Dukung SD Inpres Layang Adiwiyata

Sebarkan artikel ini
Bantuan Tempat Sampah DLH Dukung Adiwiyata SD Layang
Bantuan Tempat Sampah DLH Dukung Adiwiyata SD Layang
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Makassar, Senin, 16/03/2026 — Sumbangan tempat sampah dari Dinas Lingkungan Hidup atau DLH Kota Makassar melalui Dinas Pendidikan menjadi bentuk dukungan nyata terhadap peningkatan program Adiwiyata di sekolah, salah satunya SD Inpres Layang Bertingkat yang kini berproses menuju Adiwiyata Nasional.

Gerobak dan tempat sampah pilah tersebut diharapkan mendorong budaya bersih serta pengelolaan sampah sejak dini di lingkungan sekolah dasar di Makassar, terutama di kawasan padat penduduk.

“Fasilitas sederhana seperti tempat sampah terpilah ini adalah langkah kecil yang berdampak besar untuk mewujudkan sekolah berbudaya lingkungan,” kata Muh. Saleh, S. Pd., M. Pd, Senin, 16/03/2026.

Ringkasnya…
  • DLH dan Disdik Makassar salurkan tempat sampah ke sekolah
  • SD Inpres Layang Bertingkat terpilih karena menuju Adiwiyata Nasional
  • Fasilitas baru mendorong budaya pilah sampah di kalangan siswa
  • Program ini sejalan target peningkatan sekolah Adiwiyata di Makassar
  • Muh. Saleh sebut dukungan fasilitas jadi langkah awal perubahan perilaku
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Dukungan DLH dan Disdik untuk Sekolah Adiwiyata

Sumbangan tempat sampah dari DLH Kota Makassar yang disalurkan melalui Dinas Pendidikan memperlihatkan kolaborasi lintas OPD dalam mendorong pendidikan lingkungan hidup di sekolah.

Selama ini, banyak sekolah dasar di kawasan kota masih terkendala fasilitas pemilahan sampah sehingga sulit menerapkan praktik ramah lingkungan secara konsisten.

Dengan hadirnya tempat sampah organik dan anorganik, sekolah penerima diyakini lebih mudah membiasakan siswa membuang sampah sesuai jenisnya.

Menurut informasi lapangan, penyaluran bantuan dilakukan di halaman sekolah dengan menghadirkan perwakilan guru dan pengelola sarana prasarana.

Petugas berseragam dinas dari lingkungan pemerintah kota ikut melakukan pengecekan fisik, mulai dari jumlah unit sampai kelayakan bahan tempat sampah.

Setiap unit dibungkus rapi sebelum digunakan agar saat diterima kondisinya tetap baik dan siap ditempatkan di titik strategis sekolah.

Muh. Saleh, S. Pd., M. Pd, yang terlibat dalam pendampingan sekolah, menjelaskan bahwa bantuan tersebut bukan sekadar memenuhi kebutuhan sarana.

Ia menekankan, pendidikan karakter peduli lingkungan perlu didukung fasilitas yang memadai agar tidak berhenti di tataran teori di kelas.

“Anak akan lebih mudah belajar kalau setiap hari melihat dan memakai tempat sampah terpilah di halaman sekolah,” kata Muh. Saleh, S. Pd., M. Pd, Senin, 16/03/2026.

Selain dukungan fizikal, DLH dan Dinas Pendidikan juga mendorong penguatan kurikulum muatan lokal terkait lingkungan hidup.

Guru diharapkan menjadikan tempat sampah pilah sebagai media pembelajaran langsung, misalnya melalui tugas pengamatan jenis sampah yang paling sering dibuang siswa.

Dengan cara ini, Adiwiyata tidak hanya muncul sebagai label penghargaan, tetapi menjadi budaya sehari-hari di lingkungan pendidikan dasar.

SD Inpres Layang Bertingkat Menuju Adiwiyata Nasional

SD Inpres Layang Bertingkat menjadi salah satu sekolah yang mendapatkan bantuan tempat sampah karena sedang berproses menuju predikat Adiwiyata Nasional.

Status tersebut menunjukkan bahwa sekolah sudah melewati berbagai tahapan penilaian, mulai dari Adiwiyata tingkat kota hingga provinsi.

Peningkatan ke level nasional menuntut komitmen lebih kuat dalam pengelolaan lingkungan, administrasi, serta keterlibatan warga sekolah.

Sekolah yang berada di kawasan permukiman padat ini sebelumnya telah mengembangkan taman hijau, kebun kecil, dan program bank sampah sederhana.

Para guru memanfaatkan lahan terbatas di sudut sekolah untuk menanam tanaman obat dan sayuran yang dirawat bersama siswa.

Kegiatan ini menjadi bagian dari proyek pembelajaran tematik yang mengaitkan sains, matematika, dan literasi lingkungan.

Bantuan tempat sampah pilah yang baru diharapkan melengkapi fasilitas yang sudah ada dan memperkuat bukti fisik komitmen sekolah di mata tim penilai Adiwiyata.

Selain itu, pengelola sekolah dapat mengatur alur pengumpulan sampah dari kelas ke titik penampungan akhir dengan lebih tertib.

Pemilahan sejak sumber juga memudahkan kerja petugas kebersihan sekolah dan mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.

Muh. Saleh, S. Pd., M. Pd menilai, SD Inpres Layang Bertingkat punya peluang besar mempertahankan bahkan meningkatkan capaian Adiwiyata selama konsisten menjalankan program.

Ia menambahkan, keterlibatan orang tua perlu terus diperkuat karena perilaku anak di rumah sangat mempengaruhi kebiasaan mereka di sekolah.

“Kalau orang tua ikut memberikan contoh, budaya pilah sampah dan hemat energi akan lebih cepat melekat pada anak,” ujar Muh. Saleh, S. Pd., M. Pd, Senin, 16/03/2026.

Implementasi Adiwiyata di Sekolah Makassar

Program Adiwiyata sendiri merupakan upaya pemerintah mendorong sekolah menjadi lembaga yang peduli dan berbudaya lingkungan.

Implementasi program ini meliputi kebijakan sekolah, kurikulum, kegiatan partisipatif, hingga pengelolaan sarana dan prasarana yang ramah lingkungan.

Di Makassar, sejumlah sekolah dasar hingga menengah mulai berlomba memperkuat berbagai aspek ini agar bisa meraih predikat Adiwiyata.

Bantuan tempat sampah terpilah menjadi salah satu indikator dukungan pemerintah kota terhadap gerakan tersebut.

Dengan fasilitas ini, sekolah dapat membuat aturan yang mengharuskan setiap kelas memiliki area pilah sampah dan jadwal piket kebersihan.
Penguatan aturan internal biasanya diikuti pembiasaan seperti gerakan Jumat bersih dan lomba kelas terbersih.

Muh. Saleh menyebut, keberhasilan Adiwiyata tidak dapat diukur hanya dari jumlah fasilitas, tetapi dari sejauh mana warga sekolah menggunakannya secara konsisten.

Ia juga mengingatkan, sekolah perlu mendokumentasikan seluruh kegiatan dan perubahan yang terjadi agar mudah ditunjukkan saat proses verifikasi.

“Foto kegiatan, jurnal kelas, dan laporan bank sampah sangat membantu ketika tim penilai datang melakukan peninjauan,” kata Muh. Saleh, S. Pd., M. Pd, Senin, 16/03/2026.

Di sisi lain, DLH dan Dinas Pendidikan diharapkan terus memantau pemanfaatan bantuan agar tidak sekadar menjadi pajangan di sudut halaman sekolah.

Pendampingan berkala, pelatihan guru, dan penyusunan panduan teknis sederhana menjadi langkah lanjutan yang bisa memperkuat hasil program.

Kolaborasi dengan komunitas lingkungan dan perguruan tinggi juga membuka peluang inovasi, seperti pengolahan kompos dari sampah organik kantin sekolah.

Sumbangan tempat sampah dari DLH melalui Dinas Pendidikan Kota Makassar menjadi langkah konkret mempercepat terwujudnya sekolah berbudaya lingkungan, khususnya di SD Inpres Layang Bertingkat yang tengah mengejar predikat Adiwiyata Nasional.

Dengan dukungan fasilitas, pendampingan pendidik seperti Muh. Saleh, serta keterlibatan siswa dan orang tua, Makassar berpeluang memperbanyak sekolah hijau yang tidak hanya bersih secara fisik, tetapi juga menumbuhkan generasi peduli lingkungan sejak dini.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *