Bisnis

Bank Permata: Rupiah Melemah Karena Potensi Reklasifikasi Indonesia dari Pasar Berkembang Menjadi Standalone Market

Avatar of Sulsel Times
0
×

Bank Permata: Rupiah Melemah Karena Potensi Reklasifikasi Indonesia dari Pasar Berkembang Menjadi Standalone Market

Sebarkan artikel ini
Bank Permata: Rupiah Melemah Karena Potensi Reklasifikasi Indonesia dari Pasar Berkembang Menjadi Standalone Market
Bank Permata: Rupiah Melemah Karena Potensi Reklasifikasi Indonesia dari Pasar Berkembang Menjadi Standalone Market
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Jumat, 16/10/2026 — MSCI Mengusulkan Penurunan Status Pasar Stock Indonesia Menjadi Standalone Market, Memicu Melemahan Rupiah

Ringkasnya…
  • Rupiah mencapai Rp18.068/US$ pagi ini setelah MSCI mengusulkan penurunan status pasar saham Indonesia; Bank Permata ekonomis Joshua Pardede menyatakan pengumuman ini meningkatkan tekanan terhadap valuta; Indeks bermeja IHSG turun tajam 10,10% menjadi 5.271; Nilai tukar Rp18.063 per dolar AS melambat sekitar 0,69%; Fakhrul Fulvian dari Trimegah Sekuritas menekankan perbaikan tata kelolamasi sebagai jawaban atas kritik MSCI
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Marshyak karyawan Bank Permata Joshua Pardede menjelaskan bahwa pengumuman MSCI meningkatkan tekanan terhadap rupiah melalui penurunan kepercayaan investor dan peningkatan riska keluar modal asing. “Dampaknya terlihat pada perdagangan Jumat, ketika IHSG turun tajam sebesar 10,10% menjadi 5.271, sementara rupiah melemah sekitar 0,69% menjadi Rp18.063 per dolar AS, dari Rp17.938 pada hari sebelumnya,” katanya kepada CNBC Indonesia.

Scroll Kebawah
Advertisement

Kedua, Fakhrul Fulvian dari Trimegah Sekuritas Indonesia menganggap masalah ini bukan sekadar penurunan indeks bermeja. “Ini bukan sekadar masalah IHSG turun. Ketika MSCI mulai mempertanyakan apakah Indonesia masih layak berada dalam kelompok Emerging Market, maka yang sedang diuji adalah kepercayaan terhadap institusi pasar kita,” ujarnya.

Ketiga, penyebab keputusan ini bersambung dengan berbagai faktor global. Ketidakpastian internasional, naiknya harga minyak, serta kondisi suku bunga Amerika Serikat yang tinggi menekankan tekanan rupiah. “Risiko terbesarnya adalah apabila persoalan tata kelola pasar saham berkembang menjadi penurunan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia secara keseluruhan,” ujar Joshua Pardede.

Ketiga, Bank Indonesia diwajibkan memperkuat stabilisasi rupiah melalui intervensi pasar valuta asing yang terukur. “Dalam jangka pendek, Bank Indonesia perlu memperkuat stabilisasi rupiah melalui intervensi pasar valuta asing secara terukur, mengoptimalkan transaksi lindung nilai, serta menjaga kecukupan likuiditas perbankan,” tuturnya.

Fakhrul Fulvian menegaskan bahwa perbaiki tata kelolamasi tanpa enforcement tidak akan menghasilkan kepercayaan investor. “Governance bukan hanya jumlah aturan yang dimiliki. Governance adalah keyakinan investor bahwa aturan tersebut benar-benar dijalankan.”

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *