Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026 — Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menghadirkan Akademi Keluarga Indonesia sebagai platform pembelajaran bagi remaja berusia 10 hingga 24 tahun yang belum menikah.
- Program menyasar remaja usia 10–24 tahun
- Empat pilar pembelajaran disiapkan
- PIK-R dan Genre diintegrasikan
- Literasi digital menjadi materi utama
- Program diarahkan memperkuat kesiapan hidup
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji mengatakan pembangunan negara perlu dimulai dari penguatan keluarga.
“Kalau mau memperbaiki negara, perbaiki keluarganya,” kata Wihaji dalam pernyataan tertulis.
Program tersebut mengintegrasikan Pusat Informasi dan Konseling Remaja, Sekolah Siaga Kependudukan, dan Generasi Berencana.
Empat pilar membentuk kesiapan remaja
Pilar pertama mencakup karakter dan kesiapan berkeluarga.
Tiga pilar lainnya meliputi ekologi kependudukan, literasi dan etika digital, serta optimalisasi bonus demografi.
Kemendukbangga menilai remaja memerlukan bekal untuk memahami diri, menghadapi perubahan, dan merencanakan masa depan.
Wihaji menyoroti penggunaan telepon seluler selama delapan hingga 10 jam sehari yang dapat memengaruhi pola pikir, perilaku, dan kesehatan mental remaja.
Kesiapan hidup melengkapi pendidikan
Program ini diarahkan agar remaja tidak hanya siap menempuh pendidikan dan pekerjaan, tetapi juga siap menjalani kehidupan.
Peserta diharapkan membagikan pengetahuan kepada teman sebaya agar manfaat pembelajaran menjangkau lebih banyak remaja.
Kemendukbangga mendorong keterlibatan pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, dan dunia usaha dalam pelaksanaan program.
Akademi Keluarga Indonesia diharapkan menjadi gerakan bersama untuk menyiapkan generasi muda yang tangguh dan berkualitas.







