Sulseltimes.com, Bogor, Jumat, 02/10/2026 — PT Geo Dipa Energi (Persero) menyatakan siap berperan sebagai Special Mission Vehicle (SMV) dan instrumen fiskal pemerintah untuk mendorong pengembangan ekonomi hijau nasional.
- Geo Dipa siap jadi SMV dan alat fiskal ekonomi hijau
- Perseroan mengoperasikan 120 MW dan mengembangkan total mendekati 400 MW panas bumi
- Dirut Yudistian Yunis sebut pengalaman 24 tahun jadi modal teknis
- Perusahaan memiliki rating kredit AAA dan skor ESG 63 versi S&P Global
- Geo Dipa usung kolaborasi ekosistem dengan SMI, PII, SMF, LPEI, BPDLH, dan PIP
Kesiapan itu didasarkan pada pengalaman panjang di sektor panas bumi, kapasitas pembangkit yang beroperasi dan dalam pengembangan, serta kemampuan teknis dan finansial perseroan. Hal itu disampaikan Direktur Utama Yudistian Yunis dalam Media Gathering Kementerian Keuangan di Bogor, Jumat, 02/10/2026.
“Jadi secara readiness, Geo Dipa untuk dipersiapkan menjadi fiscal tools green economy itu sudah siap untuk menjalankan ini,” kata Yudistian.
Kapasitas Panas Bumi Mendekati 400 MW
Saat ini Geo Dipa mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berkapasitas 120 MW. Perseroan juga sedang membangun tambahan 110 MW dan menyiapkan pengadaan proyek baru kapasitas 110 MW lagi.
Total kapasitas yang dikelola dan dikembangkan mendekati 400 MW. “Secara teknikal kita siap. Hari ini kami mengoperasikan 120 MW pembangkit, sedang membangun 110 MW dan sedang menyiapkan procurement untuk tambahan 110 MW lagi,” ujarnya.
Di sisi pengalaman, Geo Dipa telah mengelola operasi dan pemeliharaan (O&M) pembangkit panas bumi selama sekitar 24 tahun, termasuk kegiatan eksplorasi. Pengalaman itu dinilai menjadi modal penting jika pemerintah memberikan mandat lebih luas di pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
Kolaborasi BUMN untuk EBT Non-Panas Bumi
Untuk pengembangan EBT di luar panas bumi, Yudistian menilai diperlukan kolaborasi dengan BUMN lain yang memiliki kompetensi spesifik. Contohnya, pengembangan energi hidro dapat dilakukan bersama PT PLN (Persero), PT Brantas Abipraya, atau BUMN karya lain yang berpengalaman sebagai pengembang dan operator PLTA.
“Dengan model seperti ini, Geo Dipa tidak harus membangun seluruh kapasitas EBT sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pengembangan energi hijau yang terintegrasi,” katanya.
Fondasi Keuangan Kuat dan Rencana Ekosistem Hijau
Dari sisi keuangan, Geo Dipa memiliki rating kredit AAA serta skor ESG 63 berdasarkan penilaian S&P Global. Skor tersebut menempatkan perusahaan di 25 besar Asia dan 50 besar dunia untuk sektor utilitas.
Geo Dipa mengusulkan pembentukan ekosistem ekonomi hijau yang melibatkan berbagai SMV di bawah Kementerian Keuangan. Dalam skema tersebut, Geo Dipa berperan sebagai penyedia energi hijau.
PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI mendukung pembangunan pembangkit dan pembiayaan kawasan industri hijau. PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) menyediakan penjaminan proyek. PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) mendukung pembiayaan perumahan dan infrastruktur pendukung tenaga kerja.
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank mendukung pembiayaan ekspor produk industri hijau. Ekosistem juga diperkuat Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan Pusat Investasi Pemerintah (PIP).
Infrastruktur digital Geo Dipa pun dinilai sudah siap mendukung peran sebagai SMV dan instrumen fiskal. “Ekosistem ini bisa digunakan Kementerian Keuangan sebagai inisiator atau pioneering untuk menciptakan ekosistem green economy. Ketika sudah berkembang dan regulasinya terbentuk dengan baik, maka pemain-pemain lain bisa masuk ke dalam ekosistem tersebut,” ujar Yudistian.



