Sulseltimes.com, Jumat, 18/09/2026 — OpenAI merilis platform kecerdasan buatan bernama Astra for Law yang dirancang khusus untuk membantu para profesional di bidang hukum dalam melakukan riset dan analisis perkara.
- OpenAI merilis Astra for Law, platform AI khusus bidang hukum berbasis model GPT-6 Astra
- Indeks pencarian hukum mencakup lebih dari 230 juta URL sumber hukum di Amerika Serikat
- Astra for Law mencatat tingkat ketepatan 54 persen dalam pengujian Vals AI Legal Research Bench
- OpenAI menggandeng Free Law Project untuk memasukkan putusan pengadilan ke dalam indeks pencarian
- Platform awalnya hanya tersedia bagi firma hukum terpilih melalui program Trusted Access
Platform ini dibangun di atas GPT-6 Astra, model AI terbaru buatan OpenAI. Namun, karena ditujukan khusus untuk bidang hukum, OpenAI membekali Astra for Law dengan pengaturan, tools, dan instruksi khusus agar model lebih memahami pekerjaan hukum profesional.
Salah satu komponen utama yang tersedia adalah indeks pencarian hukum khusus. Indeks ini memungkinkan Astra for Law mencari sumber hukum yang relevan, kemudian menggunakannya sebagai dasar untuk analisis. Sebagai contoh, ketika seorang pengacara menangani suatu perkara, Astra for Law dapat membantu mencari putusan pengadilan dengan kasus serupa dan menemukan bagian putusan mana yang paling relevan.
Untuk mendukung kemampuan tersebut, indeks pencarian Astra for Law dilengkapi berbagai sumber hukum di Amerika Serikat, mulai dari putusan pengadilan, undang-undang, regulasi, hingga keputusan administratif. Menurut OpenAI, seluruh sumber tersebut berasal dari korpus yang mencakup lebih dari 230 juta URL, dengan sumber baru yang ditambahkan setiap hari.
OpenAI juga menggandeng organisasi nirlaba di balik basis data hukum CourtListener, yaitu Free Law Project. Melalui kerja sama tersebut, koleksi putusan di CourtListener ikut tersedia dalam indeks pencarian Astra for Law, mencakup lebih dari 99,9 persen putusan preseden AS yang telah dipublikasikan.
Kendati memiliki indeks pencarian sendiri, OpenAI menegaskan bahwa sistem ini tidak ditujukan untuk menggantikan basis data hukum profesional yang sudah digunakan banyak firma hukum. Indeks pencarian pada Astra for Law lebih ditujukan untuk melengkapi konten berlisensi dan layanan khusus dari penyedia lain, seperti Thomson Reuters.
OpenAI menguji kemampuan Astra for Law dalam melakukan riset hukum dengan mengajukan 200 pertanyaan hukum di AS menggunakan private validation set dari Vals AI Legal Research Bench. Hasilnya, pada tingkat reasoning effort tertinggi, Astra for Law lolos pemeriksaan ketepatan keseluruhan pada 54 persen pertanyaan. Sebagai perbandingan, GPT-6 Astra yang menggunakan pencarian web hanya mencatat angka 38,7 persen dalam pengujian yang sama.
Astra for Law juga diklaim berhasil menemukan 24 persen lebih banyak kasus rujukan untuk pertanyaan yang berfokus pada putusan pengadilan dibandingkan GPT-6 Astra dengan pencarian web. Selain itu, platform ini tercatat mampu menemukan hingga 54 persen lebih banyak bagian teks yang relevan dari putusan pengadilan yang tepat ketika kedua sistem diuji dengan tingkat reasoning effort yang sama.
Di sisi integrasi, Astra for Law dirancang agar bisa disesuaikan dengan sistem yang sudah digunakan masing-masing firma hukum. OpenAI menyiapkan 26 plugin buatan mitra yang dapat menghubungkan ChatGPT dengan berbagai perangkat khusus di industri hukum, termasuk Relativity dan Clio. Perusahaan teknologi hukum seperti Harvey dan Legora juga dapat menggunakan Astra for Law melalui API untuk membangun produk dan alur kerja mereka sendiri.
Untuk tahap awal, Astra for Law hanya tersedia bagi sejumlah firma hukum terpilih melalui program Trusted Access di ChatGPT dan Codex. Di model picker, AI ini akan muncul dengan nama “GPT-6 Astra Law”, sedangkan di API namanya adalah gpt-6-astra-law.
Polisi masih menelusuri 11 kendaraan lainnya dan mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam perkara tersebut.







