Sulseltimes.com, Makassar, Senin, 24/08/2026 — Guru Besar Keperawatan UIN Alauddin Nur Hidayah menegaskan peran perawat tidak terbatas di rumah sakit melainkan hadir sebagai wujud kemanusiaan bagi korban gempa NTT.
- Perawat wajib hadir sebagai sentuhan kemanusiaan pascabencana
- Gempa NTT magnitudo 7,7 kedalaman 10 km
- Nur Hidayah, Guru Besar Keperawatan UIN Alauddin Makassar
- Senin, 24/08/2026, Makassar
- Pendekatan family and community-centered care untuk pulihkan rasa aman korban
Nur Hidayah menyoroti bahwa gempa magnitudo 7,7 dengan kedalaman 10 km yang melanda NTT baru-baru ini meninggalkan luka psikis yang lebih lama dari getaran fisiknya. Menurut dia, bencana tidak berhenti saat tanah berhenti berguncang karena rasa aman dalam psikis korban pun ikut runtuh.
“Kita tidak boleh berhenti pada pertanyaan apa yang sakit, tapi harus bertanya apa yang membuat mereka takut, kehilangan apa yang dirasakan, dan apa yang mampu membuat mereka merasa aman kembali,” kata Nur Hidayah, Guru Besar Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar, Senin, 24/08/2026.
Perawat di Luar Batas Ruang Rawat
Nur Hidayah mengemukakan bahwa menjadi perawat sesungguhnya tidak selalu berarti bekerja di rumah sakit mengenakan seragam. Perawat adalah siapa pun yang bersedia hadir ketika manusia lain sedang terluka.
Dalam konteks pascagempa, pelayanan kesehatan sering berorientasi pada kondisi terlihat seperti luka, patah tulang, atau infeksi. Namun penderitaan yang tidak terlihat — ibu yang mencari anak hilang, ayah yang kehilangan penghidupan, lansia yang kehilangan lingkungan nyaman — justru membutuhkan kehadiran yang mendengarkan dan memahami.
Pendekatan Keluarga dan Komunitas
Pendekatan keperawatan pascabencana perlu bergeser dari patient-centered menjadi family and community-centered care. Korban hadir bukan sebagai individu terpisah melainkan bagian dari keluarga dan komunitas yang mengalami guncangan.
Kehilangan rumah berarti kehilangan rasa aman, rutinitas, hingga identitas. Perawat berperan menciptakan kembali “ruang aman” melalui hal sederhana: menyapa dengan tenang, mendengarkan, menjelaskan dengan bahasa mudah, atau membantu ibu menemukan layanan untuk anaknya.
Pemulihan Anak dan Peran Perempuan
Anak-anak merupakan kelompok sangat rentan pascagempa. Mereka belum memiliki kemampuan kognitif dan emosional memahami kenapa rumah runtuh atau kenapa dewasa di sekitarnya cemas. Perlindungan anak bukan hanya makanan dan kesehatan, tapi mengembalikan rutinitas, permainan, hubungan, belajar, dan rasa aman.
Perawat dapat menciptakan aktivitas sederhana seperti bermain, menggambar, bercerita, atau bernyanyi untuk membantu anak mengekspresikan perasaan. Di sisi lain, perempuan sering berada pada posisi berat memikirkan kebutuhan seluruh keluarga. Pelayanan keperawatan harus memberikan ruang khusus bagi perempuan untuk berbicara, beristirahat, menjaga kesehatan reproduksi, mendapatkan dukungan psikososial, dan terlibat dalam pengambilan keputusan.
“Perempuan bukan hanya penerima bantuan. Perempuan adalah aktor penting dalam pemulihan keluarga dan komunitas,” tegas Nur Hidayah.
Membangun Kembali Rasa Aman
Pemulihan pascabencana bukan hanya recovery tubuh tapi recovery kehidupan. Tugas perawat bukan hanya mengantarkan korban kembali ke tempat tinggal, tapi membantu mereka menemukan kembali makna “rumah” sebagai tempat merasa aman, diterima, dan bisa membayangkan masa depan.
Meski tidak dapat mengembalikan rumah yang roboh atau menghapus trauma, perawat dapat hadir, mendengarkan, merawat, dan menemanai keluarga melewati hari-hari sulit. Melalui kehadiran kecil yang konsisten, rasa aman dapat dibangun kembali — fondasi agar dunia kembali dianggap tempat yang aman untuk ditinggali.







