Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 08/08/2026 — Standard Chartered berencana memangkas lebih dari 7.000 karyawan hingga 2030 seiring percepatan adopsi kecerdasan buatan.
- Standard Chartered PHK 7.000 karyawan
- 15% posisi fungsi korporasi
- CEO Bill Winters
- Hingga 2030
- Efisiensi berbasis AI
Standard Chartered, bank raksasa berbasis London, mengumumkan rencana pengurangan tenaga kerja massal di fungsi korporasinya. Langkah ini merupakan bagian dari strategi transformasi digital yang mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Bank tersebut menargetkan pemangkasan sekitar 15 persen posisi di divisi korporasi hingga 2030. Berdasarkan perhitungan Reuters, angka itu setara dengan lebih dari 7.000 karyawan dari total sekitar 52.000 pegawai di unit tersebut. Secara global, Standard Chartered memiliki hampir 82.000 pegawai.
CEO Standard Chartered, Bill Winters, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar pemangkasan biaya. “Ini bukan sekadar pemangkasan biaya. Dalam beberapa kasus, kami mengganti human capital bernilai rendah dengan financial capital dan investment capital yang kami tanamkan,” kata Winters, Sabtu, 08/08/2026.
Dampak di Pusat Operasional Global
Pengurangan tenaga kerja akan dilakukan melalui otomatisasi dan penerapan AI. Winters mengatakan bank akan memberikan kesempatan pelatihan ulang atau reskilling bagi karyawan yang ingin meningkatkan keterampilan. “Orang-orang yang ingin meningkatkan keterampilan dan terus melanjutkan karier akan kami beri kesempatan untuk reposisi,” kata dia.
Posisi yang paling terdampak berasal dari pusat operasional back-office bank. Lokasi yang terpengaruh meliputi Chennai dan Bengaluru di India, Kuala Lumpur di Malaysia, serta Warsawa di Polandia. Winters menyebut AI akan menjadi fasilitator utama dalam transformasi sistem inti perbankan perusahaan.
Tren Global dan Target Keuangan
Langkah Standard Chartered mengikuti tren industri perbankan global yang serupa. Bank asal Jepang, Mizuho Financial Group, sebelumnya mengumumkan rencana pengurangan hingga 5.000 pekerjaan dalam satu dekade. Di sisi lain, bank-bank global berlomba mengintegrasikan model AI terbaru sambil menghadapi ancaman siber yang meningkat.
Meski melakukan PHK besar-besaran, Standard Chartered memasang target pertumbuhan agresif. Bank itu menargetkan return on tangible equity (ROTE) di atas 15 persen pada 2028 dan meningkat menjadi sekitar 18 persen pada 2030. Perusahaan juga mempercepat target penghimpunan dana baru bersih sebesar US$200 miliar menjadi 2028, lebih cepat dari target sebelumnya 2029.
Fokus bisnis akan diarahkan pada segmen margin tinggi seperti nasabah ritel kaya dan institusi keuangan. Namun, tantangan geopolitik tetap membayangi prospek. Standard Chartered yang fokus di Asia Pasifik dan Afrika mengakui konflik Timur Tengah sebagai risiko utama. Pada kuartal pertama tahun ini, bank telah menyisihkan provisi kehati-hatian sebesar US$190 juta terkait konflik tersebut. “Kami sangat tangguh,” kata Winters saat ditanya mengenai dampak risiko geopolitik terhadap target bisnis.
Transformasi berbasis AI memaksa perbankan global menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan pengelolaan sumber daya manusia.







