Berita

5.268 Personel Operasi Ketupat 2026 Siaga di Sulsel

Avatar of Sulsel Times
0
×

5.268 Personel Operasi Ketupat 2026 Siaga di Sulsel

Sebarkan artikel ini
Operasi Ketupat 2026 di Sulawesi Selatan dengan pengerahan 5.268 personel gabungan untuk pengamanan mudik dan Lebaran
Operasi Ketupat 2026 di Sulawesi Selatan dengan pengerahan 5.268 personel gabungan untuk pengamanan mudik dan Lebaran. Dok ist.
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Makassar, Senin, 16/03/2026 — Operasi Ketupat 2026 di Sulawesi Selatan melibatkan 5.268 personel gabungan untuk mengamankan arus mudik, libur Lebaran, dan pelayanan masyarakat melalui 108 pos yang tersebar di berbagai wilayah.

Ringkasnya…
  • 5.268 personel gabungan diterjunkan di Operasi Ketupat 2026 Sulsel
  • Polda Sulsel siapkan 108 pos pengamanan, pelayanan, dan terpadu
  • Layanan darurat 110 dimaksimalkan selama arus mudik dan Lebaran
  • Polisi minta rumah kosong pemudik didata dan kendaraan bisa dititip
  • Wakil Ketua DPRD Sulsel apresiasi kesiapan pengamanan Lebaran
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Pengamanan Lebaran di Sulsel

Pengamanan Lebaran 2026 di Sulawesi Selatan diperkuat lewat Operasi Ketupat yang melibatkan unsur Polri, TNI, dan berbagai instansi pemerintah.

Total personel yang diturunkan mencapai 5.268 orang.

Jumlah itu terdiri atas 2.583 personel Polri, 546 personel TNI, dan 2.139 personel dari instansi terkait lainnya.

Seluruh personel disiagakan untuk mengawal kelancaran arus mudik, perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, hingga arus balik di sejumlah titik rawan.

Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro menekankan pentingnya seluruh petugas memahami pola pelaksanaan operasi agar pelayanan di lapangan berjalan seragam dan efektif.

“Saya berharap agar seluruh personel mempedomani dan mensosialisasikan pelaksanaan operasi ini sehingga dapat dipahami dan dilaksanakan dengan baik,” ujar Djuhandhani.

Apel gelar pasukan sebelumnya digelar di Lapangan Upacara Kantor Mapolda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar.

Kegiatan itu diikuti personel gabungan dari Polri, TNI, Dinas Perhubungan, Jasa Raharja, Satpol PP, Pemadam Kebakaran, Basarnas, dan Senkom Mitra Polri.

Dari sisi sebaran, Polda Sulsel menempatkan personel di 108 pos pengamanan yang disiapkan untuk mendukung pelayanan selama masa Lebaran.

Rinciannya terdiri dari 61 pos pengamanan, 22 pos pelayanan, dan 25 pos terpadu.

Pos-pos tersebut menjadi titik penting untuk menjaga keamanan, mengurai kepadatan lalu lintas, dan membantu masyarakat yang membutuhkan layanan cepat selama perjalanan mudik.

Fokus layanan di lapangan

Selain penjagaan lalu lintas dan pengamanan tempat keramaian, personel di lapangan juga diminta lebih aktif memberi rasa aman kepada warga.

Kapolda meminta petugas mendata rumah-rumah kosong yang ditinggal pemudik selama libur Lebaran.

Langkah itu dinilai penting untuk mengurangi risiko tindak kriminal saat banyak warga meninggalkan rumah dalam waktu bersamaan.

Polisi juga menyiapkan layanan penitipan kendaraan bermotor di kantor kepolisian setempat.

Skema ini diharapkan membantu masyarakat yang ingin mudik lebih tenang tanpa khawatir kendaraan mereka tidak terpantau.

Di sisi lain, kehadiran pos pelayanan juga diarahkan untuk membantu warga yang mengalami gangguan perjalanan, kelelahan di jalan, atau butuh informasi lalu lintas terbaru.

Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa operasi pengamanan Lebaran tidak hanya bertumpu pada penjagaan keamanan, tetapi juga pada kualitas pelayanan publik di lapangan.

Nomor 110 dioptimalkan

Kapolda Sulsel juga memberi perhatian khusus pada optimalisasi layanan telepon darurat 110 selama Operasi Ketupat 2026 berlangsung.

Menurut dia, akses cepat terhadap bantuan harus dipastikan mudah dijangkau masyarakat kapan saja.

Nomor ini diharapkan menjadi jalur respons cepat bagi warga yang membutuhkan bantuan kepolisian, mengalami gangguan keamanan, atau ingin melaporkan kondisi darurat selama masa mudik dan libur Lebaran.

“Ini untuk memastikan masyarakat mengetahui seluruh informasi layanan kepolisian, pesan-pesan kamtibmas hingga penerapan rekayasa lalu lintas,” kata Djuhandhani.

Penekanan pada layanan 110 juga berkaitan dengan kebutuhan informasi yang cepat di masa arus mudik.

Saat mobilitas warga meningkat, informasi soal jalur padat, rekayasa lalu lintas, hingga titik rawan kecelakaan menjadi sangat penting untuk diketahui pengendara.

Karena itu, saluran pengaduan dan informasi tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian inti dari operasi pengamanan Lebaran.

Operasi Ketupat 2026 di Sulsel juga menonjolkan kerja bersama lintas institusi.

Keterlibatan TNI, pemerintah daerah, unsur perhubungan, petugas penyelamatan, hingga relawan menjadi penanda bahwa pengamanan Lebaran memang membutuhkan koordinasi yang luas.

Bagi aparat, tantangan Lebaran tidak hanya soal kepadatan kendaraan, tetapi juga keamanan kawasan permukiman, tempat ibadah, pusat belanja, terminal, pelabuhan, dan lokasi wisata.

Dengan cakupan yang luas itu, soliditas antarlembaga menjadi kunci agar pengamanan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Kapolda pun mengajak seluruh personel terus menjaga sinergi dan kekompakan selama operasi berlangsung.

Pesan ini penting karena keberhasilan pengamanan Lebaran biasanya sangat ditentukan oleh koordinasi di lapangan, terutama saat terjadi lonjakan kendaraan atau situasi darurat yang membutuhkan keputusan cepat.

DPRD Sulsel beri apresiasi

Merespons kesiapan pengamanan tersebut, Wakil Ketua DPRD Sulsel Sufriadi Arif menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Operasi Ketupat 2026.

Menurutnya, langkah ini penting untuk memastikan kesiapan aparat menjelang arus mudik dan perayaan Idul Fitri 2026.

Ia menilai apel siaga yang digelar menunjukkan keseriusan semua unsur pengamanan dalam memberi rasa aman dan nyaman kepada masyarakat selama momentum Lebaran.

“Saya mengapresiasi kesiapan jajaran kepolisian serta seluruh pihak yang terlibat dalam operasi ini. Semoga pelaksanaan Operasi Ketupat dapat berjalan dengan baik, sehingga masyarakat dapat merayakan lebaran dengan aman, tertib, dan penuh kebersamaan,” kata Sufriadi Arif.

Pernyataan ini mencerminkan harapan publik agar operasi tidak berhenti pada seremoni kesiapan pasukan saja.

Yang paling dinanti masyarakat adalah kehadiran aparat yang benar-benar terasa di lapangan, baik saat mengatur arus kendaraan, membantu pemudik, maupun menjaga keamanan lingkungan selama rumah-rumah ditinggal pemiliknya.

Tantangan mudik dan pelayanan

Dalam praktiknya, pengamanan Lebaran di Sulsel selalu menghadapi tantangan yang berlapis.

Selain kepadatan lalu lintas di jalur utama, potensi kecelakaan, cuaca, dan lonjakan aktivitas di pusat keramaian juga perlu diantisipasi sejak awal.

Karena itu, penempatan pos pengamanan dan pos pelayanan tidak hanya penting dari sisi jumlah, tetapi juga dari sisi ketepatan lokasi dan kecepatan respons.

Operasi Ketupat 2026 pada akhirnya bukan hanya soal pengawasan, tetapi juga soal memastikan masyarakat bisa menjalani perjalanan mudik dan merayakan Lebaran dengan rasa aman.

Keberhasilan operasi ini akan sangat ditentukan oleh kesiapan personel, kualitas koordinasi, dan kemampuan aparat membaca situasi lapangan secara cepat.

Pengerahan 5.268 personel gabungan dalam Operasi Ketupat 2026 menunjukkan keseriusan Polda Sulsel dan seluruh instansi terkait dalam mengawal momentum mudik dan Lebaran di Sulawesi Selatan.

Dengan dukungan 108 pos, layanan darurat 110, pendataan rumah kosong, dan penitipan kendaraan, pengamanan tahun ini diarahkan bukan hanya untuk menjaga ketertiban, tetapi juga memberi rasa tenang bagi masyarakat.

Apresiasi dari DPRD Sulsel menjadi penguat bahwa sinergi lintas lembaga memang dibutuhkan agar perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah berlangsung aman, tertib, dan nyaman.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *