Sulseltimes.com, Jakarta, Kamis, 22/10/2026 — Bank Indonesia (BI) menghadapi dua tantangan utama: menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
- BI menahan suku bunga acuan namun memperkuat insentif likuiditas
- Tekanan global menjadi tantangan utama untuk stabilitas mata uang
- Rupiah perlu dijaga agar tidak melemah di tengah ketidakpastian ekonomi global
- BI fokus pada kestabilan moneter sekaligus dukungan pertumbuhan ekonomi
- Program Power Lunch CNBC Indonesia disampaikan oleh Andi Shalini
daluannya, BI mengambil kebijakan penahan suku bunga acuan sambil memperkuat insentif likuiditas untuk mengatasi tekanan ekonomi global. Pendekatan ini menjadi respons terhadap ketidakstabilan pasar internasional yang menekan nilai tukar mata uang negara.
Menurut penjelasan dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, Andi Shalini membahas implikasi kebijakan BI terhadap sektor perbankan serta prospek ekonomi ke depan. Program tersebut disiarkan pada Kamis, 22/10/2026.
Strategi Kebijakan BI
BI secara aktif mempertahankan suku bunga acuan tanpa penyesuaian, sekaligus memperluas program pembelian surat berharga dan likuiditas untuk memastikan pasar tetap stabil. Langkah ini bertujian menjaga minat investasi asing tetap kuat di Indonesia.
Sedangkan, penanganan risiko global menjadi fokus utama. Tekanan inflasi ekspor dan fluktuasi nilai tukar membuat BI perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas mata uang dan pertumbuhan ekonomi domestik.
Dampak bagi Sektor Perbankan
Kebijakan BI menyasar sektor perbankan dengan memperkuat likuiditas, sehingga membuka peluang pertumbuhan modal dan layanan kepada masyarakat. Namun, sektor juga perlu menyesuaikan diri dengan ketidakpastian ekonomi global yang tetap berlanjut.
Andi Shalini dalam paparanannya menekankan pentingnya strategi BI yang tepat guna mencegah penurunan pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak global. Program tersebut memberikan gambaran kebijakan moneter yang dinamis di tengah tantangan terbaru.
Status kebijakan BI tetap menunggu evaluasi lanjutan terkait dampak jangka panjang terhadap ekonomi makro Indonesia.







