Berita

Urban Farming Makassar Didorong Munafri untuk Topang MBG dan Pangan Warga

Avatar of Sulsel Times
1
×

Urban Farming Makassar Didorong Munafri untuk Topang MBG dan Pangan Warga

Sebarkan artikel ini
Urban farming Makassar Munafri Arifuddin di Makassar 11 April 2026
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyampaikan dorongan penguatan urban farming dan dukungan untuk MBG di Makassar, Sabtu, 11/04/2026. Sumber foto istimewa.
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Makassar, Sabtu, 11/04/2026 — Urban farming Makassar kembali didorong Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin sebagai langkah memperkuat kemandirian pangan warga di tengah keterbatasan lahan perkotaan, sekaligus menopang kebutuhan gizi masyarakat dan program Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kota Makassar.

Dorongan itu disampaikan Munafri di Makassar pada Sabtu, 11 April 2026, saat ia menekankan bahwa pertanian perkotaan tidak hanya menyentuh urusan pangan rumah tangga, tetapi juga bisa membentuk ekosistem gizi dan ekonomi lokal yang lebih hidup.

Munafri juga mengaitkan penguatan urban farming dengan pelaksanaan MBG dan pengembangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG yang kini disebut telah mencapai 104 unit di berbagai wilayah Kota Makassar.

Ringkasnya…
  • Urban farming Makassar didorong untuk memperkuat kemandirian pangan warga
  • Munafri menilai lahan sempit tetap bisa produktif dengan pengetahuan dan ketelatenan
  • Program ini disebut sudah berhasil di sejumlah wilayah dan membentuk ekosistem gizi lokal
  • SPPG di Makassar telah berkembang menjadi 104 unit di berbagai wilayah
  • Pemkot juga mendorong integrasi peternakan untuk memasok telur bagi kebutuhan MBG
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Urban farming Makassar diarahkan ke skala rumah tangga

Munafri menilai urban farming menjadi salah satu cara paling realistis untuk memperluas partisipasi warga dalam urusan pangan, terutama di kota besar seperti Makassar yang lahannya terbatas untuk pertanian konvensional.

Menurut dia, pemanfaatan ruang sempit tetap bisa memberi hasil bila dikerjakan dengan pengetahuan dasar budidaya dan ketelatenan dalam perawatan.

“Urban farming adalah salah satu upaya untuk berkontribusi dalam kemandirian pangan. Kita bisa memanfaatkan keterbatasan lahan dengan pengetahuan serta ketelatenan,” kata Munafri Arifuddin, Wali Kota Makassar, Sabtu, 11/04/2026.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pertanian perkotaan yang dimaksud bukan sekadar menanam tanaman hias di pekarangan, melainkan upaya menghasilkan bahan pangan yang bisa dipakai atau dijual dari lingkungan rumah dan lorong permukiman.

Di sejumlah wilayah Kota Makassar, program ini disebut sudah memperlihatkan hasil yang cukup baik karena mulai membentuk rantai sederhana antara produksi pangan rumah tangga, pemenuhan gizi keluarga, dan perputaran ekonomi lokal.

Efek inilah yang membuat urban farming tidak lagi dilihat hanya sebagai kegiatan sambilan warga, melainkan sebagai gerakan sosial yang bisa memperkuat ketahanan pangan dari level paling dekat dengan rumah tangga.

Bagi kota seperti Makassar, arah kebijakan ini cukup penting karena kebutuhan pangan terus naik seiring pertumbuhan penduduk, sementara ruang terbuka untuk budidaya tanaman tidak bertambah luas.

Dalam praktiknya, urban farming biasanya dijalankan lewat pemanfaatan pekarangan, lahan sempit di sekitar rumah, pot, rak tanam bertingkat, atau lorong permukiman yang diubah menjadi ruang produksi sayur dan tanaman pangan ringan.

Dengan pola seperti itu, warga tidak harus menunggu lahan besar untuk mulai menanam, karena skala kecil pun tetap bisa memberi dampak pada pengeluaran harian keluarga dan kualitas asupan makanan.

Munafri menilai keberhasilan beberapa wilayah di Makassar menjadi sinyal bahwa model ini bisa diperluas, selama ada pendampingan dan pengelolaan yang konsisten dari tingkat lingkungan sampai pemerintah kota.

Ia juga memberi penekanan bahwa ekosistem pangan berbasis masyarakat akan lebih kuat bila warga tidak hanya menjadi penerima program, tetapi ikut menjadi pelaku utama dalam produksi bahan pangan sederhana di lingkungannya sendiri.

MBG Makassar dan 104 unit SPPG

Dorongan terhadap urban farming itu tidak berdiri sendiri karena Munafri menghubungkannya langsung dengan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis yang sedang berkembang di Makassar.

Menurut dia, MBG memberi pengaruh ganda karena menyentuh kebutuhan gizi anak sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat yang bisa terlibat dalam rantai pasok bahan pangan.

“Ini bisa mendukung ekosistem pemenuhan gizi, bahkan hingga skala rumah tangga,” kata Munafri Arifuddin, Wali Kota Makassar, Sabtu, 11/04/2026.

Munafri juga menyebut program MBG sebagai kebijakan yang berdampak luas karena penerima manfaatnya tidak terbatas pada anak sekolah.

Kelompok sasaran program ini disebut meliputi anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita, sehingga penguatan pasokan pangan menjadi bagian penting agar manfaatnya bisa berjalan stabil.

Dari sisi pelaksanaan, SPPG di Makassar disebut telah berkembang pesat dengan total 104 unit yang tersebar di berbagai wilayah kota.

Angka itu menunjukkan bahwa kebutuhan pasokan bahan pangan, tata kelola dapur, dan standar distribusi akan menjadi perhatian yang semakin besar dalam waktu dekat.

Karena itu, Munafri mendorong adanya integrasi sektor peternakan untuk membantu kebutuhan dapur MBG, termasuk pengembangan peternakan ayam agar pasokan telur bisa tersedia secara berkelanjutan.

Gagasan ini penting karena telur termasuk bahan pangan yang mudah diakses, relatif efisien untuk distribusi, dan umum dipakai sebagai sumber protein dalam menu gizi anak.

Jika urban farming mengisi sisi sayuran dan pangan segar rumah tangga, maka peternakan skala terukur dapat menjadi pelengkap untuk menopang kebutuhan protein dalam skema MBG.

Dengan begitu, Pemkot Makassar tampak ingin membangun rantai pasok yang lebih dekat ke warga, bukan hanya mengandalkan distribusi dari luar kota atau pemasok besar.

Munafri pada saat yang sama mengingatkan bahwa percepatan jumlah unit SPPG harus dibarengi dengan standar operasional dan manajemen yang baik agar manfaat program tetap terjaga dalam jangka panjang.

Ia menegaskan bahwa sistem yang telah disusun diyakini sudah melalui kajian matang, sehingga tantangan utamanya kini berada pada pelaksanaan yang konsisten di lapangan.

“Saya yakin seluruh prosedur dan sistem yang ada telah melalui kajian yang matang. Tinggal bagaimana ini dijalankan secara konsisten sesuai aturan,” kata Munafri Arifuddin, Wali Kota Makassar, Sabtu, 11/04/2026.

Pesan itu menjadi penting karena program berskala besar seperti MBG tidak cukup hanya mengandalkan antusiasme, tetapi juga perlu disiplin pengelolaan, keamanan pangan, dan koordinasi antarpelaksana.

Selain menyentuh aspek kesehatan, Munafri menilai MBG punya efek domino pada aktivitas ekonomi masyarakat, terutama bila bahan baku dapat disuplai dari lingkungan sekitar dan pasar lokal.

Dalam jangka pendek, arah kebijakan ini bisa mendorong warga memanfaatkan lahan sempit secara lebih produktif.

Dalam jangka lebih panjang, integrasi urban farming, peternakan, dan dapur gizi dapat menjadi fondasi baru bagi ketahanan pangan Makassar yang lebih dekat dengan kebutuhan warga sehari hari.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *