banner DPRD Makassar 728x90
Berita

Inovasi Sampah Plastik Jadi BBM di Makassar, Wali Kota Munafri Arifuddin Tinjau Lokasi di Bontoala

Avatar of Sulsel Times
0
×

Inovasi Sampah Plastik Jadi BBM di Makassar, Wali Kota Munafri Arifuddin Tinjau Lokasi di Bontoala

Sebarkan artikel ini
Utama: Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin Meninjau Pengolahan Sampah Plastik Menjadi BBM Di Bontoala, Rabu 11/02/2026.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin Meninjau Proses Pengolahan Sampah Plastik Menjadi BBM Di Jalan Labu Lorong, Bontoala, Rabu (11/02/2026).
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Makassar, Minggu, 11/02/2026 — Inovasi sampah plastik jadi BBM di Makassar mendapat dukungan Pemerintah Kota Makassar setelah Wali Kota Munafri Arifuddin meninjau langsung proses peleburan plastik menjadi bahan bakar di Jalan Labu Lorong, Kecamatan Bontoala, Rabu, 11/2/2026.

Ringkasnya…
  • Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meninjau pengolahan sampah plastik menjadi BBM di Jalan Labu Lorong, Bontoala, Rabu, 11/2/2026
  • Pemkot menilai inovasi berpotensi menekan volume sampah plastik dan memberi nilai tambah ekonomi bagi warga
  • Munafri meminta inovasi didorong dan didampingi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar aman dan berkelanjutan
  • Penggagas bernama Darwin menjelaskan proses memakai instalasi sederhana berbasis drum besi dengan oli bekas sebagai bahan pembakar
  • Darwin menyebut sekitar 10 kilogram sampah plastik dapat menghasilkan sekitar 1 liter bahan bakar setelah proses pemasakan dan penyulingan
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

banner DPRD Makassar 728x90

Kunjungan itu sekaligus menjadi apresiasi kepada anak muda dan warga yang mencoba menawarkan solusi praktis untuk persoalan sampah plastik di lingkungan.

Apresiasi Pemkot Makassar untuk inovasi warga

Sulseltimes.com, Makassar, Rabu, 11/2/2026 — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengunjungi lokasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) di Jalan Labu Lorong, Kecamatan Bontoala.

Di lokasi, Munafri menyaksikan proses pengolahan sampah plastik yang dikumpulkan dari sekitar permukiman, lalu dilebur dengan teknologi sederhana hingga menghasilkan bahan bakar yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Inovasi ini tidak hanya berdampak pada pengurangan volume sampah plastik, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi serta manfaat sosial bagi warga,” ujar Munafri Arifuddin.

Munafri, yang akrab disapa Appi, menilai gerakan warga dan anak muda tersebut sejalan dengan arah kebijakan Pemkot Makassar yang mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis partisipasi masyarakat.

Dorongan pendampingan DLH dan kolaborasi inovator lokal

Munafri menegaskan persoalan sampah tidak bisa semata dibebankan kepada pemerintah, karena membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dari tingkat sumber sampah.

“Inovasi seperti ini harus kita dorong dan DLH dampingi, ini bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang kepedulian, kreativitas, dan keberanian anak muda mengambil peran,” kata Munafri Arifuddin.

Pemkot Makassar, menurut Munafri, membuka ruang kolaborasi agar inovasi lokal bisa berkembang lebih luas dan berkelanjutan melalui pendampingan teknis, penguatan kelembagaan, hingga akses kemitraan.

Ia juga berharap gagasan pengolahan sampah plastik menjadi BBM bisa direplikasi di wilayah lain di Makassar agar dampaknya terhadap pengurangan pencemaran dan peningkatan kesadaran warga dapat lebih terasa.

Penjelasan penggagas: bahan, alat, dan hasil produksi

Salah satu penggagas inovasi, Darwin, menyebut pengolahan limbah plastik menjadi BBM telah lama ia rintis sebagai respons atas persoalan sampah yang kian mengkhawatirkan.

Darwin menekankan masa depan pengelolaan limbah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesadaran, kemauan, dan kreativitas masyarakat.

Ia menjelaskan proses produksi dilakukan menggunakan instalasi sederhana berbasis drum besi, dengan memanfaatkan oli bekas sebagai bahan pembakar.

Darwin mengatakan sampah plastik dimasak sekitar dua hingga tiga jam hingga menghasilkan cairan bahan bakar, lalu melalui tahap penyulingan.

“Sekitar 10 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan satu liter bahan bakar,” tuturnya.

Darwin menambahkan hasil pembakaran dapat menjadi solar, sementara setelah disuling hasilnya bisa mendekati bensin setara premium.

Ia menyebut penggunaan oli bekas dipilih agar proses tetap efisien, karena satu liter oli bekas dapat dipakai untuk pembakaran hingga sekitar dua jam.

Adapun bahan baku plastik yang diolah berasal dari sampah plastik rumah tangga, seperti botol bekas, plastik kresek, hingga kemasan makanan, yang dikumpulkan dari warga sekitar maupun dipungut di kanal dan lingkungan sekitar.

Harapan replikasi dan catatan soal regulasi

Para penggagas mengaku semakin termotivasi mengembangkan inovasi setelah mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Makassar.

Mereka berharap pengelolaan sampah berbasis inovasi lokal dapat menjadi alternatif menghadapi kompleksitas persoalan sampah perkotaan.

Darwin juga menekankan inovasi warga perlu diiringi kehadiran negara melalui teknologi yang aman, kebijakan yang adil, serta sistem pengelolaan limbah yang melindungi kesehatan publik dan kelestarian lingkungan.

“Inovasi kami warga tidak boleh berjalan sendiri, pemerintah harus hadir dengan regulasi, pendampingan, dan sistem yang memastikan pengelolaan limbah berjalan aman dan berkelanjutan,” tegas Darwin.

Inovasi sampah plastik jadi BBM di Makassar memperlihatkan peran anak muda dan warga dalam menghadirkan solusi lingkungan yang bisa dipakai langsung di tingkat komunitas.

Pemkot Makassar menyatakan dukungan melalui apresiasi, dorongan pendampingan DLH, dan pembukaan ruang kolaborasi agar inovasi serupa dapat berkembang dan direplikasi secara aman serta berkelanjutan.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow
banner Pemerintah Kota Makassar 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *