Sulseltimes.com, Washington DC, Rabu, 26/08/2026 — Dua saudara kembar mantan karyawan kontraktor pemerintah AS menghapus 96 database federal setelah dipecat, mencuri data pajak, dan menutupi jejak dengan bantuan AI.
- Dua saudara kembar hapus 96 database federal AS
- Muneeb dan Sohaib Akhter mantan karyawan Opexus
- Perusahaan lupa nonaktifkan akun Muneeb pasca pemecatan
- Aksi dilakukan Februari 2025 hingga penggeledahan Maret 2025
- Keduanya didakwa konspirasi penipuan komputer dan kepemilikan senjata ilegal
Muneeb Akhter dan Sohaib Akhter, dua saudara kembar warga AS, didakwa menghancurkan 96 database milik pemerintah federal yang dikelola oleh perusahaan kontraktor Opexus. Perusahaan tersebut berbasis di Washington DC dan melayani lebih dari 45 lembaga federal.
Keduanya memiliki catatan kriminal sejak 2015 atas kasus peretasan situs web, pencurian data kartu kredit, dan upaya menjual data pribadi di darknet. Sohaib juga pernah mencuri data rekan kerja di Departemen Luar Negeri dan memasang perangkat keras pemantau sistem diam-diam. Meski pernah dihukum penjara, keduanya kembali direkrut Opexus, Muneeb pada 2023 dan Sohaib tahun berikutnya.
Pelanggaran Selama Masih Bekerja
Berdasarkan dokumen pengadilan, saat masih bekerja keduanya kembali melakukan pelanggaran. Muneeb meminta Sohaib mengambil password plaintext pengaduan di portal EEOC. Sohaib mengambilnya dan memberikannya ke Muneeb untuk mengakses email korban tanpa izin.
Penyelidikan menemukan Muneeb mengumpulkan 5.400 username dan password jaringan internal perusahaan. Ia membuat script Python untuk mencoba kombinasi login ke layanan populer, termasuk script “marriott_checker.py” untuk jaringan hotel Marriott. Muneeb berhasil masuk ke ratusan akun, termasuk DocuSign dan maskapai penerbangan, dan menggunakan poin penerbangan korban untuk bepergian.
Pemecatan dan Aksi Penghancuran Data
Perusahaan mengetahui masa lalu kriminal keduanya pada Februari 2025. Pada 18 Februari, keduanya dipanggil rapat daring dan dipecat. Akses VPN dan akun Windows Sohaib diblokir segera, namun akun Muneeb lupa dinonaktifkan.
Kelalaian itu dimanfaatkan Muneeb. Ia mengakses database pemerintah, memblokir pengguna lain, dan menjalankan perintah penghapusan. Di antaranya, ia menghapus database Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dengan perintah “DROP DATABASE dhsproddb”. Dalam sekitar satu jam, 96 database berisi data Freedom of Information Act dan dokumen investigasi federal terhapus.
Ia juga mengunduh 1.805 file EEOC ke USB dan mengambil informasi pajak federal minimal 450 orang.
Upaya Menutupi Jejak dengan AI
Selama aksi berlangsung, Muneeb bertanya ke chatbot AI cara menghapus system logs SQL Server dan event logs Windows Server 2012. Kedua saudara itu berdiskusi soal penghancuran data. Sohaib berkata, “Aku lihat kamu lagi membersihkan backup database mereka,” dan menyarankan “plausible deniability”. Muneeb merasa kerusakan bisa dipulihkan: “Ah, mereka bisa pulihkan backup kemarin.”
Dalam percakapan lain, Sohaib menyarankan menghapus filesystem dan memeras perusahaan. Muneeb menolak: “Tidak, jangan lakukan itu. Itu bukti kalau kita bersalah.” Keduanya lalu memasang ulang sistem operasi laptop perusahaan dengan bantuan pihak ketiga.
Penggeledahan dan Proses Hukum
Kira-kira tiga minggu kemudian, aparat federal menggerebek rumah mereka di Alexandria. Aparat menyita perangkat teknologi dan tujuh senjata api. Sohaib dilarang memiliki senjata api karena riwayat kriminal.
Keduanya ditangkap dan didakwa. Muneeb menandatangani kesepakatan pengakuan bersalah pada April 2026, lalu mencoba mencabutnya via surat dari penjara dengan alasan pengacara tidak efektif. Sohaib memilih persidangan dan baru-baru ini dinyatakan bersalah oleh juri federal atas konspirasi penipuan komputer, perdagangan password, dan kepemilikan senjata api ilegal.
Kelalaian Perusahaan
Opexus mengakui telah melakukan pemeriksaan latar belakang sebelum merekrut, namun pemeriksaan tambahan seharusnya dilakukan. Perusahaan juga mengakui proses pemecatan tidak ditangani dengan benar, termasuk kelalaian membuat akun Muneeb tetap aktif.








