Sulseltimes.com, Makassar, Jumat, 16 Oktober 2026 — Bayi 28 hari belum memasuki usia pemberian makanan pendamping air susu ibu (ASI), sedangkan telur mentah membawa risiko infeksi sehingga tidak tepat dijadikan makanan tambahan untuk bayi baru lahir.
- Bayi 28 hari masih dalam masa neonatal
- WHO menganjurkan ASI eksklusif enam bulan
- MPASI dimulai sekitar usia enam bulan
- Telur mentah berisiko membawa Salmonella
- Keluhan pada bayi perlu penilaian tenaga kesehatan
Kementerian Kesehatan memasukkan bayi usia 0 sampai 28 hari ke dalam kelompok bayi baru lahir atau masa neonatal.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan.
Pemberian makanan tambahan perlu mengikuti usia dan kondisi bayi, bukan semata anggapan bahwa makanan orang dewasa akan membuat bayi lebih kuat.
Usia pemberian makanan tidak dapat disamakan
ASI eksklusif berarti bayi mendapatkan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain, termasuk air, dengan pengecualian tertentu seperti obat dan suplemen sesuai kebutuhan medis.
WHO menganjurkan makanan pendamping diperkenalkan sekitar usia enam bulan sambil melanjutkan pemberian ASI.
Karena itu, usia 28 hari masih jauh lebih awal dibandingkan tahap pengenalan makanan padat atau semi padat.
Jika terdapat kendala menyusui atau kondisi medis tertentu, orang tua perlu meminta penilaian tenaga kesehatan mengenai pemberian nutrisi yang sesuai.
Telur mentah tidak menjadi pengganti ASI ataupun pengganti penilaian medis terhadap bayi yang tampak sulit menyusu.
Risiko telur mentah dan langkah saat bayi mengalami keluhan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menjelaskan bahwa telur yang tampak bersih dan tidak retak tetap dapat mengandung bakteri Salmonella.
Anak kecil termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami penyakit berat akibat infeksi bawaan makanan.
Untuk keamanan pangan, FDA menganjurkan telur dimasak sampai bagian putih dan kuningnya mengeras serta makanan berbahan telur dimasak secara menyeluruh.
Pedoman memasak tersebut tidak mengubah batas usia pengenalan makanan bagi bayi.
Artinya, telur yang dimasak tetap tidak menjadi alasan untuk memberikan makanan tambahan kepada bayi baru lahir tanpa pertimbangan medis.
Jika bayi telanjur diberi makanan yang belum sesuai usia, sampaikan kepada tenaga kesehatan jenis makanan, jumlah perkiraan, dan waktu pemberiannya.
Bayi yang sulit menyusu, tampak sangat lemah, mengalami gangguan napas, atau menunjukkan keluhan lain perlu segera dinilai di fasilitas kesehatan.
Jangan menunda pemeriksaan hanya untuk menunggu apakah keluhan akan hilang sendiri.
Risiko umum telur mentah juga tidak dapat dipakai untuk menetapkan penyebab kematian pada satu kasus tanpa hasil pemeriksaan medis.
Untuk bayi baru lahir, keputusan pemberian nutrisi dan penanganan keluhan harus mengikuti usia, kondisi klinis, serta arahan tenaga kesehatan.









