Sulseltimes.com, Palopo, Sabtu, 24/01/2026 — Aksi demonstrasi Aliansi Wija To Luwu kembali berlanjut pada Sabtu pagi.
Aksi yang menuntut realisasi pemekaran Provinsi Luwu Raya ini memicu kemacetan di sejumlah ruas jalan.
Massa menutup akses dengan menaruh pohon di beberapa titik.
- Aksi Aliansi Wija To Luwu berlanjut Sabtu 24 Januari 2026 setelah dimulai Jumat 23 Januari 2026
- Massa menutup jalan dengan pohon dan memicu kemacetan di sejumlah ruas
- Aliansi menuntut realisasi pemekaran Provinsi Luwu Raya yang disebut sudah disuarakan sejak 2020
- Titik penutupan jalan disebut terjadi di perbatasan Luwu, Sampoddo Palopo, Walenrang, Masamba, Baliase, dan Tana Lili
- Polisi mengimbau aksi tidak mengganggu pengguna jalan, sementara sebagian warga menyatakan dukungan
Aksi berlanjut, tuntutan pemekaran disuarakan sejak 2020
Muh. Reza, salah satu anggota aliansi, mengatakan tuntutan pemekaran Provinsi Luwu Raya telah disuarakan sejak 2020.
Ia menyebut rencana pemekaran itu telah mendapat persetujuan dari empat kepala daerah.
Empat daerah yang disebut mendukung adalah Pemerintah Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.
Palopo disebut sebagai calon ibu kota provinsi.
“Sejak 2020 kami menunggu, tapi tidak ada tindak lanjut,” kata Muh. Reza, anggota Aliansi Wija To Luwu, Sabtu, 24/01/2026.
“Kami hanya ingin janji itu ditepati,” kata Muh. Reza, anggota Aliansi Wija To Luwu, Sabtu, 24/01/2026.
“Semoga aksi ini bisa didengar langsung oleh Presiden agar segera mengeluarkan kebijakan khusus untuk pencabutan moratorium daerah otonomi baru,” kata Muh. Reza, anggota Aliansi Wija To Luwu, Sabtu, 24/01/2026.
Massa menutup jalan di sejumlah titik strategis.
Titik yang disebut di antaranya perbatasan Luwu.
Titik lainnya berada di Sampoddo di Kota Palopo.
Penutupan juga disebut terjadi di Walenrang di Kabupaten Luwu.
Di wilayah Luwu Utara, massa disebut menutup akses di Masamba.
Penutupan juga dilaporkan di Baliase.
Titik lain yang disebut adalah Tana Lili.
Polisi imbau tidak ganggu pengguna jalan
Kepolisian mengimbau agar aksi tidak mengganggu arus lalu lintas.
Aiptu Asmara dari Satlantas Polres Luwu menyayangkan penutupan jalan yang membuat perjalanan warga terganggu.
“Kasihan pengguna jalan, apalagi kalau ada orang sakit atau yang melakukan perjalanan jauh,” kata Aiptu Asmara, anggota Satlantas Polres Luwu, Sabtu, 24/01/2026.
Di sisi lain, sebagian warga menyatakan dukungan terhadap aksi tersebut.
“Kalau tidak demo di jalan, pemerintah tidak akan melihat dan peduli,” kata Syahrul, warga setempat, Sabtu, 24/01/2026.
Aliansi Wija To Luwu menyatakan aksi akan berlanjut hingga ada tanggapan resmi dari pemerintah pusat terkait pemekaran Provinsi Luwu Raya.

















