Sulseltimes.com, Jakarta, Kamis, 22/10/2026 — Kementerian Keuangan memastikan fundamental ekonomi dan sektor keuangan Indonesia tetap resilien meski Morgan Stanley Capital International (MSCI) berpotensi menurunkan status pasar saham ke kategori standalone.
- Kemenkeu memastikan fundamental ekonomi dan sektor keuangan tetap resilien
- APBN berperan sebagai peredam guncangan di tengah gejolak global
- Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan di atas 5% pada kuartal III-2026
- IMF menempatkan Indonesia sebagai ekonomi terbesar ketujuh dunia versi PPP
- IHSG menguat 1,12% ke level 5.387,91 berkat reformasi OJK
Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Herman Saheruddin menegaskan angka-angka fundamental ekonomi mencatat kinerja resilien sehingga pemerintah mampu mengantisipasi berbagai risiko.
“Kementerian Keuangan tetap jaga APBN. APBN itu peredam guncangan. Kenapa harga tetap terkendali terutama untuk bahan bakar minyak subsidi? Itu karena diserap oleh APBN,” kata Herman Saheruddin, Dirjen SPSK Kemenkeu, Kamis, 22/10/2026.
Proyeksi Pertumbuhan di Atas 5%
Kemenkeu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh di atas level 5% pada kuartal III-2026 di tengah ketidakpastian global. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4% dalam APBN 2026.
Posisi Indonesia Versi IMF
Herman mengutip data Dana Moneter Internasional (IMF) yang menempatkan Indonesia di peringkat ketujuh dunia berdasarkan paritas daya beli (PPP). Dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia, Indonesia dan negara ASEAN lain dinilai sebagai titik terang di kawasan Asia Pasifik.
Di sisi pasar modal, langkah reformasi OJK mulai menunjukkan hasil positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan naik 59,54 poin atau 1,12% ke level 5.387,91.
“Pengaturan free float sudah ada, terus kemudian High Shareholding Concentration (HSC) itu, OJK yang lebih teknikal yang tahu,” ujarnya.
Pemerintah terus memantau perkembangan global sambil memastikan stabilitas sektor keuangan terjaga.







