Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, 19/10/2026 — Sebanyak 351 saham terkunci di batas auto reject bawah (ARB) pada hari pertama Berlakunya batas baru 7 persen, sementara IHSG menutup melemah 3,64 persen.
- 351 saham terkunci ARB bawah pada hari pertama batas 7%
- Jumlah saham ARB mencapai 36% dari total saham tercatat dengan kapitalisasi Rp3.197 triliun
- Saham besar BBCA, BYAN, AMMN, TLKM, dan MORA menyentuh batas bawah
- IHSG menutup turun 3,64% ke level 4.996,61 setelah sempat anjlok 5,36%
- BEI menilai kebijakan ARB 7% efektif meredam kepanikan pasar dibanding Jumat lalu
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), 351 saham tersebut setara dengan sekitar 36 persen dari 963 saham yang tercatat. Total kapitalisasi pasar saham-saham ARB mencapai sekitar Rp3.197 triliun.
Saham-saham berkapitalisasi besar ikut masuk daftar ARB. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) anjlok 6,86 persen ke Rp4.820 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp588,24 triliun, tertinggi di antara saham ARB hari ini. Di belakangnya PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turun 6,95 persen ke Rp10.375, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terkoreksi 6,95 persen ke Rp3.480. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) melemah 6,84 persen ke Rp1.770, serta PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) turun 6,91 persen ke Rp3.640.
20 Saham ARB Terbesar Menguasai 72 Persen Kapitalisasi
Total kapitalisasi pasar 20 saham ARB terbesar mencapai sekitar Rp2.302 triliun, atau sekitar 72 persen dari kapitalisasi seluruh saham ARB hari ini. Sejumlah saham besar lain juga menyentuh batas bawah, di antaranya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga tertahan di batas bawah, turun Rp1 ke Rp24 per saham. GOTO menjadi saham paling ramai ditransaksikan dengan volume 9,56 miliar saham, dan antrean jualnya masih tersisa sekitar 1,2 miliar saham hingga penutupan.
Secara keseluruhan, data BEI mencatat 691 saham melemah, 103 saham menguat, dan 169 saham stagnan.
BEI Pangkas Batas ARB dari 15% Jadi 7%
BEI dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memangkas batas ARB saham dari 15 persen menjadi 7 persen secara asimetris. Ketentuan ini tertuang dalam Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00157/BEI/10-2026 tentang Perubahan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas. Kebijakan tersebut berlaku mulai hari ini dan akan dievaluasi kembali sesuai kondisi pasar.
Langkah ini diambil setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57 persen pada Jumat lalu. Kejatuhan itu terjadi bersamaan dengan pengumuman MSCI yang membuka kemungkinan Indonesia dipindahkan ke klasifikasi standalone market.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai kebijakan tersebut cukup efektif meredam kepanikan pasar pada sesi pertama perdagangan hari ini. Menurutnya, tekanan jual memang masih ada, tetapi kepanikan investor sudah mereda dibandingkan Jumat lalu.
“Sesi pertama ini itu cukup efektif untuk meredam kepanikan pasar,” kata Jeffrey Hendrik, Direktur Utama BEI, Senin, 19/10/2026.
Jeffrey menambahkan, penurunan pasar tetap bisa terjadi. Namun, penurunan itu diharapkan berlangsung melalui mekanisme perdagangan yang baik dan berdasarkan informasi yang diterima seluruh investor secara simetris.
IHSG Menutup di Level 4.996,61
IHSG ditutup melemah 188,49 poin atau 3,64 persen ke level 4.996,61. Indeks sempat jatuh hingga 5,36 persen ke level terendah 4.907,37, sebelum memangkas koreksi dan sempat kembali ke atas level psikologis 5.000. Nilai transaksi tercatat Rp25,13 triliun dengan volume 34,07 miliar saham. Seluruh sektor melemah, dengan koreksi terdalam di sektor bahan baku, konsumer non-primer, teknologi, dan keuangan. Saham BBCA, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), BYAN, TLKM, dan AMMN menjadi pemberat utama indeks.
Tekanan di pasar saham masih dipicu kabar MSCI yang mempertimbangkan pemindahan Indonesia dari kategori emerging market ke status standalone. Goldman Sachs memperkirakan potensi arus keluar dana pasif bisa mencapai US$5,6 miliar atau sekitar Rp100,8 triliun jika Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI. Sepanjang 2026, investor asing tercatat telah membukukan jual bersih saham Indonesia sebesar US$4,88 miliar atau sekitar Rp87,84 triliun.







