Sulseltimes.com, Jakarta, Kamis, 15/10/2026 — Sembilan emiten perkebunan memberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi perhatian publik.
- Sembilan emiten perkebunan merespons permintaan penjelasan BEI terkait karhutla
- Perusahaan yang merespons antara lain STAA, DSNG, MGRO, TAPG, JARR, PGUN, GZCO, JAWA, dan ANDI
- Sebagian besar emiten menyatakan tidak ada dampak material terhadap pendapatan, laba, atau aset dan target produksi tetap sesuai rencana
- PGUN melaporkan kebakaran di sekitar konsesi namun operasional dan produksi tetap berjalan normal
- Beberapa perusahaan seperti ANDI dan GZCO masih melakukan penilaian dampak lebih lanjut
Respons emiten ke BEI
Berdasarkan keterbukaan informasi di BEI, mayoritas perusahaan menyatakan aktivitas operasional dan target produksi tahun 2026 tetap berjalan normal, meskipun ada kebakaran di wilayah konsesi. Perusahaan juga menegaskan tidak terjadi penghentian operasi yang tidak direncanakan (unplanned shutdown).
PGUN, salah satu emiten milik Haji Isam, melaporkan adanya karhutla di sekitar area konsesinya di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Meski demikian, kegiatan pemanenan dan pengolahan di pabrik kelapa sawit tetap berjalan, dan dampak finansial langsung dinilai relatif terisolasi serta tidak material terhadap pendapatan maupun laba bersih. Aset biologis dan aset tetap perusahaan masih terlindungi tanpa kerusakan material yang memerlukan penghapusbukuan (write-off).
Emiten lain seperti GZCO menilai dampak kebakaran tidak signifikan, sedangkan ANDI masih melakukan penelusuran internal untuk memastikan pengaruhnya terhadap kegiatan usaha. Perusahaan-perusahaan lain menyatakan tidak sedang menghadapi proses hukum maupun sanksi administratif terkait kejadian tersebut.
Bagi investor, risiko karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan kebun atau gangguan produksi, tetapi juga potensi gangguan rantai pasok, kualitas udara, produktivitas tenaga kerja, hingga reputasi perusahaan dan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan. Kesiapan sarana pemadam, sistem peringatan dini, pengelolaan air, dan koordinasi dengan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan risiko tersebut.
Polisi masih menelusuri 11 kendaraan lainnya dan mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam perkara tersebut.














