Bisnis

IHSG Anjlok di Atas 1%, Ini Penyebabnya

Avatar of Sulsel Times
0
×

IHSG Anjlok di Atas 1%, Ini Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
IHSG Anjlok di Atas 1%, Ini Penyebabnya
IHSG Anjlok di Atas 1%, Ini Penyebabnya
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Kamis, 15/10/2026 — IHSG anjlok lebih dari 1% pada perdagangan pagi karena tekanan sektor properti, energi, dan material dasar serta faktor eksternal seperti inflasi AS dan ancaman geopolitik.

Ringkasnya…
  • IHSG turun 61,24 poin atau 1,03% ke level 5.881,78 pada perdagangan pagi Kamis 15/10/2026
  • Volume transaksi 55,42 juta lot dengan nilai Rp1,292,65 miliar
  • Sektor properti turun 1,9%, energi 1,6%, dan material dasar 1,5% menjadi penyebab utama pelemahan
  • Saham pemberat meliputi BBCA, BRMS, DSSA, AMMN, dan BBRI
  • Tekanan pasar juga dipengaruhi inflasi AS naik menjadi 3,7% dan indeks dolar yang tinggi serta ancaman Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

IHSG berada di level 5.881,78, turun 61,24 poin dari pembukaan pada 5.917,13, dengan titik terendah intraday di 5.880,92 dan tertinggi hanya mencapai 5.917,70.

Scroll Kebawah
Advertisement

Volume transaksi tercatat sebesar 55,42 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp1,292,65 miliar.

Menurut data Rifinitif, pelemahan IHSG berasal dari sektor properti yang anjlok 1,9%, disusul sektor energi turun 1,6%, dan sektor material dasar yang turun 1,5%.

Saham pemberat dan penopang

Saham yang menjadi pemberat IHSG antara lain PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI). Sementara saham penopang koreksi meliputi PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank of India Indonesia Tbk. (BSWD), PT Tifico Fiber Indonesia Tbk. (TFCO), dan PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk. (BIKE).

Faktor eksternal yang memengaruhi pasar

Inflasi AS naik menjadi 3,7% secara tahunan pada September 2026, dolar AS masih berada di level tinggi, dan ancaman kelompok Houthi di Yaman terhadap fasilitas minyak Arab Saudi menambah ketidakpastian global. Selain itu, surplus perdagangan China melonjak menjadi US$133,5 miliar, menimbulkan spekulasi mengenai arah kebijakan moneter AS dan aliran modal ke pasar emerging.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini, dengan investor menunggu hasil pertemuan IMF‑World Bank di Bangkok serta data indeks harga produsen (PPI) AS yang akan dirilis kemudian.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *