Sulseltimes.com, Makassar, Jumat, 16 Oktober 2026 — Cara menghitung balik modal usaha adalah membandingkan investasi awal dengan akumulasi arus kas bersih, sedangkan titik impas operasional dihitung dari biaya, harga jual, dan jumlah produk terjual.
- Balik modal investasi dihitung memakai arus kas bersih
- BEP menunjukkan penjualan yang menutup biaya
- Omzet berbeda dengan uang bersih yang tersedia
- Contoh dalam artikel merupakan simulasi
- Tidak ada waktu balik modal yang berlaku untuk semua usaha
Association of Chartered Certified Accountants (ACCA) menjelaskan bahwa masa pengembalian investasi menunjukkan waktu yang diperlukan agar arus kas bersih suatu proyek menutup investasi awalnya.
Karena itu, usaha yang sudah mampu membayar biaya bulanan belum tentu telah mengembalikan seluruh uang yang dikeluarkan saat memulai bisnis.
Rumus balik modal usaha dan contoh perhitungannya
Jika arus kas bersih setiap bulan tetap dan positif, perkiraan masa balik modal dapat dihitung dengan rumus berikut.
Masa balik modal dalam bulan = investasi awal ÷ arus kas bersih bulanan.
Arus kas bersih berasal dari penerimaan kas dikurangi pengeluaran kas usaha dalam periode yang sama, bukan sekadar omzet penjualan.
Jika arus kas berubah setiap bulan, jumlahkan realisasinya secara bertahap sampai totalnya menutup investasi awal.
Sebagai simulasi, sebuah usaha membutuhkan investasi awal Rp30 juta dan menghasilkan arus kas bersih Rp3 juta per bulan.
Dengan asumsi tidak ada perubahan maupun tambahan investasi, masa pengembaliannya adalah Rp30 juta ÷ Rp3 juta, yakni 10 bulan.
Jika arus kas bulan pertama Rp1 juta, bulan kedua Rp2 juta, dan bulan ketiga Rp3 juta, investasi yang kembali setelah tiga bulan baru Rp6 juta.
Sisa Rp24 juta masih perlu ditutup oleh arus kas bersih pada bulan berikutnya.
Angka tersebut hanya ilustrasi perhitungan, bukan janji hasil atau patokan waktu bagi semua usaha.
Dalam pencatatan, pisahkan uang penjualan yang sudah diterima dari piutang yang belum dibayar.
Masukkan pula pengeluaran kas relevan, termasuk pajak, kebutuhan stok, dan pembelian tambahan, sesuai batas perhitungan yang digunakan.
Cara menghitung BEP dan bedanya dengan balik modal
Menurut U.S. Small Business Administration, break-even point (BEP) merupakan titik ketika pendapatan setara dengan total biaya yang diperhitungkan.
Untuk satu jenis produk, rumus BEP dalam unit adalah biaya tetap ÷ selisih harga jual dan biaya variabel per unit.
Biaya tetap merupakan biaya untuk periode tertentu yang tidak berubah mengikuti jumlah penjualan dalam rentang kegiatan yang dianalisis.
Biaya variabel per unit merupakan biaya yang mengikuti produksi atau penjualan setiap produk.
Contoh simulasi kedai kopi menggunakan biaya tetap Rp8,5 juta per bulan, harga jual Rp25.000 per gelas, dan biaya variabel Rp10.000 per gelas.
Selisih harga jual dan biaya variabel adalah Rp15.000 per gelas, sehingga BEP mencapai Rp8.500.000 ÷ Rp15.000 atau sekitar 566,67 gelas.
Untuk unit penjualan utuh, target minimal dibulatkan ke atas menjadi 567 gelas per bulan.
Pada penjualan 567 gelas, omzet mencapai Rp14.175.000 dan biaya variabel Rp5.670.000.
Setelah dikurangi biaya tetap Rp8.500.000, tersisa Rp5.000 berdasarkan komponen biaya dalam simulasi.
Pada 566 gelas, omzet Rp14.150.000 masih lebih kecil daripada total biaya Rp14.160.000, sehingga terdapat kekurangan Rp10.000.
Contoh tersebut menunjukkan batas penjualan operasional, sedangkan pengembalian investasi awal tetap harus dihitung melalui arus kas.
Perhitungan BEP juga perlu diperbarui jika harga jual, biaya bahan, sewa, atau komposisi produk berubah.
Metode masa pengembalian sederhana tidak memperhitungkan nilai waktu uang, sebagaimana dibedakan ACCA dari metode pengembalian yang memakai arus kas terdiskonto.
Gunakan perhitungan yang konsisten agar investasi awal dan biaya bulanan tidak dihitung dua kali.
Ukuran yang perlu dipantau tetap berbeda, yakni kecukupan penjualan untuk menutup biaya periode berjalan dan akumulasi kas untuk mengembalikan modal awal.









