Bisnis

Kisah Saifuddin Zuhri, Mantan Menag yang Berjualan Beras di Glodok dan Tolak Rumah Dinas

Avatar of Sulsel Times
0
×

Kisah Saifuddin Zuhri, Mantan Menag yang Berjualan Beras di Glodok dan Tolak Rumah Dinas

Sebarkan artikel ini
Kisah Saifuddin Zuhri, Mantan Menag yang Berjualan Beras di Glodok dan Tolak Rumah Dinas
Kisah Saifuddin Zuhri, Mantan Menag yang Berjualan Beras di Glodok dan Tolak Rumah Dinas
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 10/10/2026 — Mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri memilih hidup sederhana dan berjualan beras di Pasar Glodok usai pensiun, bahkan menyembunyikannya dari keluarga hingga tertangkap putranya.

Ringkasnya…
  • Saifuddin Zuhri menjabat Menteri Agama ke-10 hingga 1967
  • Usai pensiun ia berjualan beras di Pasar Glodok era 1980-an
  • Keluarga tidak mengetahui sumber penghasilannya hingga putranya menemukannya di pasar
  • Ia menolak fasilitas rumah dinas dan mencicil rumah sendiri di Kebayoran Baru
  • Rumahnya dihibahkan untuk kepentingan sosial NU
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Saifuddin Zuhri menjabat sebagai Menteri Agama RI ke-10 sejak dilantik hingga purna tugas pada 1967. Ia kemudian aktif kembali di dunia politik sebagai anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU) hingga terpilih dalam Pemilu 1971.

Scroll Kebawah
Advertisement

Berdasarkan catatan dalam buku Sang Pendoa: Para Kiai Fenomenal Pengayom Kedamaian Umat (2023), pada era 1980-an Saifuddin melakoni profesi pedagang beras di Pasar Glodok, Jakarta. Rutinitas itu dilakoni hampir setiap hari.

Setelah menunaikan salat Dhuha, ia menyetir mobil sendiri mengangkut karung-karung beras menuju lapak dagang. Kedok sang mantan menteri terbongkar ketika salah seorang putranya memergokinya melayani pembeli.

Istri dan anak-anaknya hanya tahu Saifuddin selalu pulang membawa uang, namun tidak pernah tahu asal penghasilan tersebut. Berdagang bukan hal baru baginya. Dalam autobiografi Berangkat dari Pesantren (1984), ia menceritakan pada 1942 sempat menjual pakaian bekas, perabotan loak, hingga rokok untuk menyambung hidup.

Jiwa integritas dan kesederhanaan Saifuddin sudah mengakar sejak menduduki kursi menteri. Bagi ayah dari Menteri Agama era Kabinet Kerja Lukman Hakim Saifuddin, jabatan adalah amanah suci yang tidak boleh disalahgunakan.

Prinsip itu dibuktikan lewat penolakan fasilitas rumah dinas. Meski sah secara aturan dan didesak berkali-kali, ia menolak dan memilih tinggal di rumah pribadi. “Kalau begitu aku serakah namanya. Kalau menteri agama sudah serakah, bagaimana yang lain… sikapku tegas,” ujarnya kala itu.

Ia mencicil rumah di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, demi menjaga kemandirian. Begitu cicilan lunas, rumah itu dihibahkan cuma-cuma untuk kepentingan sosial NU.

Saifuddin Zuhri wafat setelah berjuang melawan sakit. Puluhan tahun telah berlalu, namun integritas tanpa kompromi dan kesederhanaan hakiki yang ia wariskan tetap menjadi teladan bagi pejabat negara.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *