Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, 06/09/2026 — Indonesia pernah menyimpan cadangan emas masif di Cikotok, Banten, yang dieksploitasi intensif oleh kolonial Belanda hingga dikelola PT Antam sebelum akhirnya habis pada 2005.
- Cadangan emas Cikotok Banten mencapai 30.000 ton
- Dieksploitasi kolonial Belanda sejak 1919
- Dikelola PT Antam 1974-2005
- Lokasi Cikotok, Banten
- Kekayaan jatuh ke tangan penjajah
Wilayah Cikotok yang berjarak sekitar 200 kilometer selatan Jakarta pernah menjadi salah satu tonggak industri mineral terbesar di sejarah pertambangan nasional. Catatan sejarah menunjukkan potensi cadangan bijih emas di bawah tanah area ini menembus angka 30 ribu ton.
Eksplorasi sistematis bermula pada 1919 ketika pemerintah kolonial menugaskan tim geologi yang dipimpin W.F.F. Oppenoorth. Tim tersebut menyusuri hutan belantara dari Sukabumi, merintis jalan, dan membor 25 terowongan hingga 1928 untuk memetakan sumber daya tersebut.
Eksploitasi Kolonial dan Realita Rakyat
Pemerintah kolonial kemudian memberikan hak konsesi kepada NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam. Investasi tahunan mencapai 80.000 gulden dan dibangun pabrik pengolahan berkapasitas 20 ton per hari. Meski begitu, pabrik tersebut kewalahan menampung melimpahnya material tambang.
Berdasarkan arsip harian De Indische Courant, para buruh pribumi sering menemukan bongkahan bijih kadar tinggi hingga berat 126 gram. Pada 1933, luas konsesi membentang 400 kilometer persegi dengan potensi cadangan terungkap melampaui 61.000 ton bernilai 3,68 miliar gulden menurut laporan De Locomotief.
Aliran kekayaan melimpah dari perut bumi Banten justru nyaris hanya mempertebal pundi-pundi keuangan kolonial. Janji kesejahteraan bagi penduduk pribumi tidak terealisasi di tengah eksploitasi masif tersebut.
Era Kemerdekaan dan Penutupan
Pasca kemerdekaan, pengelolaan tambang diambil alih oleh NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan. Estafet pengelolaan kemudian diserahkan ke PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada 1974.
Tambang Emas Cikotok beroperasi selama puluhan tahun sebagai tulang punggung industri mineral sebelum resmi berhenti pada 2005 setelah cadangannya dinyatakan habis terkuras. Tongkat estafet kejayaan pertambangan emas nusantara kini diteruskan oleh raksasa tambang modern seperti PT Freeport Indonesia di Papua.









