Bisnis

Bursa Asia Dibuka Beragam, Pasar Amati Obligasi AS dan Geopolitik

Avatar of Sulsel Times
0
×

Bursa Asia Dibuka Beragam, Pasar Amati Obligasi AS dan Geopolitik

Sebarkan artikel ini
Bursa Asia Dibuka Beragam, Pasar Amati Obligasi AS dan Geopolitik
Bursa Asia Dibuka Beragam, Pasar Amati Obligasi AS dan Geopolitik
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Kamis, 03/09/2026 — Bursa saham Asia Pasifik dibuka beragam di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS dan eskalasi geopolitik Timur Tengah.

Ringkasnya…
  • Bursa Asia dibuka beragam
  • Kospi naik 0,86%, Nikkei datar, ASX naik 0,12%
  • John Williams (NY Fed), Richard Haass (CFR)
  • Perdagangan Kamis, 03/09/2026, Jakarta
  • Investor awasi imbal hasil Treasury AS dan konflik Timur Tengah
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Pergerakan pasar tersebut terjadi setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak pada perdagangan kemarin.

Scroll Kebawah
Advertisement

Imbal hasil Treasury tenor dua tahun menyentuh 4,41 persen level tertinggi sejak Januari 2025.

Imbal hasil tenor 10 tahun sempat menyentuh 4,818 persen level tertinggi sejak November 2023.

Kedua imbal hasil tersebut akhirnya ditutup di bawah level tertinggi hari itu.

Harga minyak bergerak lebih tinggi dengan kontrak WTI naik 0,9 persen ditutup di atas US$91 per barel.

Kuatnya Ekonomi AS Jadi Pendorong Imbal Hasil

Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menilai kenaikan imbal hasil mencerminkan prospek ekonomi AS yang solid.

“Kenaikan imbal hasil tersebut terutama didorong oleh kuatnya perekonomian AS dan prospek ekonomi yang ditopang investasi besar pada kecerdasan buatan serta pusat data,” kata John Williams, Presiden Federal Reserve Bank of New York, Kamis, 03/09/2026.

Menurutnya kondisi tersebut bukan menunjukkan kondisi keuangan memengaruhi perekonomian melainkan sebaliknya.

Geopolitik Timur Tengah Masih Jadi Risiko

Kekhawatiran geopolitik kembali memanas setelah pertempuran antara AS dan Iran pecah kembali.

Pejabat AS sebelumnya mengisyaratkan peralihan ke sanksi ekonomi sebelum konflik memanas lagi.

Presiden emeritus Council on Foreign Relations Richard Haass mengakui kesulitan memprediksi arah konflik.

“Beberapa pekan lalu kedua negara tampak beralih ke tekanan ekonomi karena aksi militer dinilai tidak memberikan hasil,” kata Richard Haass, Presiden Emeritus Council on Foreign Relations, Kamis, 03/09/2026.

Pelaku pasar hari ini memantau data klaim pengangguran mingguan AS.

Perhatian utama tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS Agustus yang dirilis besok.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *