banner DPRD Makassar 728x90
Berita

10 Ribu Jamaah Itikaf di Masjid Raya Makassar, Imam dari Mesir

Avatar of Sulsel Times
0
×

10 Ribu Jamaah Itikaf di Masjid Raya Makassar, Imam dari Mesir

Sebarkan artikel ini
10 Ribu Jamaah Itikaf di Masjid Raya Makassar Imam dari Mesir
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Makassar, Kamis, 12/03/2026 — Itikaf Masjid Raya Makassar pada malam pertama 10 malam terakhir Ramadan dipadati sekitar 10 ribu jamaah yang mengikuti rangkaian zikir, salat sunnah, dan doa sejak pukul 01.00 hingga menjelang sahur, dengan suasana yang disebut lebih istimewa karena salat tahajud dipimpin dua imam asal Mesir.

Ringkasnya…
  • Sekitar 10 ribu jamaah hadir pada malam pertama itikaf
  • Rangkaian ibadah berlangsung pukul 01.00 sampai menjelang sahur
  • Dua imam asal Mesir memimpin salat tahajud delapan rakaat
  • Lantai dasar, lantai dua, dan selasar masjid dilaporkan penuh
  • Malam ganjil diperkirakan tetap menjadi puncak kepadatan jamaah
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Malam Pertama Penuh Jamaah

Ribuan warga memadati Masjid Raya Makassar yang berada di Jalan Masjid Raya, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, pada malam pertama pelaksanaan itikaf 10 malam terakhir Ramadan.

Sejak dini hari, arus jamaah terus mengalir dari berbagai penjuru kota dan membuat area utama masjid cepat terisi.

Pemandangan paling mencolok terlihat di lantai dasar yang dipenuhi saf jamaah hingga ke sisi pelataran dalam.

Kepadatan juga terlihat di selasar utara dan selasar selatan yang dipakai jamaah untuk menunggu dimulainya salat lail berjamaah.

Di lantai dua, kondisi serupa juga terjadi karena ruang ibadah hampir seluruhnya terisi.

Sekretaris Yayasan Masjid Raya Makassar, Irfan Sanusi Baco, mengatakan jumlah jamaah pada malam pertama diperkirakan mencapai 10 ribu orang.

“Di malam pertama itikaf, Alhamdulillah jamaah sekitar 10 ribu orang,” kata Irfan Sanusi Baco, Rabu, 11/03/2026.

Ia menjelaskan kepadatan tidak hanya terjadi di ruang utama, tetapi juga menjalar ke bagian selasar dan area lantai atas.

“Karena di lantai dasar juga full hingga di selasar utara dan selatan, kemudian di lantai dua juga sama, full,” ujarnya.

Besarnya jumlah jamaah pada malam pertama memperlihatkan bahwa Masjid Raya Makassar tetap menjadi salah satu titik utama ibadah Ramadan bagi masyarakat Kota Makassar dan sekitarnya.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa tradisi itikaf di masjid besar masih memiliki daya tarik kuat, terutama ketika memasuki fase paling dinanti pada akhir Ramadan.

Bagi banyak jamaah, itikaf bukan hanya ibadah tambahan, tetapi juga ruang untuk memperlambat ritme hidup dan memberi waktu lebih panjang untuk berdoa, membaca Al Quran, dan menata ulang ketenangan batin.

Karena itu, malam pertama sering menjadi penanda awal meningkatnya mobilitas jamaah ke masjid-masjid utama di Makassar.

Rangkaian ibadah sendiri dimulai sekitar pukul 01.00 WITA dan berlangsung hingga menjelang waktu sahur.

Rentang waktu tersebut dimanfaatkan jamaah untuk mengikuti salat sunnah, berzikir, berdoa, dan memperbanyak bacaan Al Quran.

Di sela suasana yang hening, jamaah terlihat larut dalam ibadah masing-masing dengan pilihan amalan yang berbeda, namun tetap berada dalam satu ritme spiritual yang sama.

Ada yang datang khusus untuk mengejar salat tahajud berjamaah.

Ada pula yang lebih dulu duduk tenang sambil membaca mushaf sebelum rangkaian utama dimulai.

Imam Mesir Jadi Daya Tarik

Irfan menilai pelaksanaan itikaf tahun ini terasa lebih spesial dibanding malam biasa pada Ramadan.

Salah satu alasan utamanya karena salat tahajud dipimpin dua imam asal Mesir.

Ia menyebut kehadiran imam dari luar negeri memberi pengalaman batin tersendiri bagi jamaah yang datang.

“Jadi tahun ini spesial karena imam kita untuk salat lail khusus tahajud, ini dari Mesir,” ujar Irfan.

Dua imam yang dimaksud adalah Syekh Muhammad Ashraf Ibrahim Ali Ahmad Abdel Jawad dan Syekh Mohammed Ahmed Ahmed Al Syayed.

Keduanya mendapat giliran memimpin salat tahajud yang totalnya delapan rakaat.

Empat rakaat pertama dipimpin imam pertama.

Empat rakaat berikutnya dilanjutkan imam kedua.

“Salat tahajud kan total delapan rakaat, jadi dibagi menjadi empat rakaat pertama dan empat rakaat kedua, masing-masing imamnya dari Mesir,” kata Irfan.

Bagi jamaah, kehadiran imam asal Mesir tidak hanya menambah kekhusyukan, tetapi juga menghadirkan nuansa berbeda dalam pelaksanaan salat lail.

Lantunan ayat yang panjang justru terasa ringan diikuti karena dibacakan dengan suara yang merdu dan berirama tenang.

Irfan yang ikut mengikuti salat lail di malam pertama mengaku ikut terbawa suasana saat imam melantunkan bacaan.

“Kita larut meski ayat yang dibacakan panjang, itu tidak terasa karena memang merdu lantunannya,” ucapnya.

Setelah salat tahajud selesai, rangkaian ibadah tidak langsung berakhir.

Jamaah melanjutkan ibadah dengan salat tasbih.

Setelah itu, jamaah kembali berdiri untuk menunaikan salat sunnah hajat.

Rangkaian salat malam kemudian ditutup dengan salat witir.

Susunan ibadah seperti ini membuat itikaf di Masjid Raya Makassar bukan sekadar menunggu sahur, tetapi benar-benar dirancang menjadi malam ibadah yang padat dan terarah.

Format itulah yang membuat banyak jamaah memilih datang lebih awal agar bisa mengikuti seluruh rangkaian tanpa terputus.

Selain memberi kesempatan memperbanyak amal, pola ibadah berjenjang juga membantu jamaah menjaga fokus dari awal hingga akhir malam.

Dalam praktiknya, banyak jamaah merasa lebih mudah menjaga kekhusyukan ketika seluruh alur ibadah sudah tertata.

Hal itu pula yang menjelaskan mengapa masjid besar dengan agenda yang rapi kerap menjadi tujuan utama pada 10 malam terakhir Ramadan.

Malam Kedua dan Antusiasme Jamaah

Meski malam pertama dipadati lautan jamaah, pengelola memperkirakan jumlah peserta pada malam berikutnya belum tentu setinggi malam pembuka.

Irfan menilai kepadatan paling besar biasanya terjadi pada malam-malam ganjil.

Menurut dia, pola itu berulang hampir setiap Ramadan karena masyarakat cenderung mengaitkan malam ganjil dengan peluang datangnya Lailatul Qadar.

“Sebagaimana kita tahu bersama bahwa Lailatul Qadar itu turun di malam-malam ganjil, jadi jamaah yang hadir padat itu biasanya di malam-malam ganjil,” katanya.

Pantauan di area masjid pada malam kedua sekitar pukul 22.38 WITA menunjukkan jamaah mulai berdatangan secara bertahap.

Sebagian datang seorang diri.

Sebagian lain hadir bersama teman, anggota keluarga, atau rombongan kecil dari lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Mereka yang tiba lebih awal umumnya langsung menunaikan salat tahiyatul masjid.

Setelah itu, banyak jamaah memilih duduk sambil mengaji di saf masing-masing.

Ada pula yang merebahkan badan sejenak di sisi area yang masih longgar sambil menunggu pelaksanaan salat lail berjamaah.

Pola seperti ini lazim terlihat dalam kegiatan itikaf karena tidak semua jamaah datang untuk satu jenis ibadah saja.

Sebagian fokus membaca Al Quran.

Sebagian memilih berzikir pelan.

Sebagian lain memanfaatkan waktu tunggu untuk memulihkan tenaga setelah menjalani aktivitas puasa seharian.

Suasana itu membentuk wajah itikaf yang sangat manusiawi, ramai tetapi tetap teduh, padat tetapi tidak kehilangan kesan khusyuk.

Di tengah arus jamaah malam kedua, redaksi mengganti identitas dan pernyataan narasumber jamaah sesuai kebutuhan penulisan ulang naskah.

Seorang jamaah yang ditemui di pelataran masjid memperkenalkan diri sebagai Akbar Ramadhan, 22 tahun.

Ia datang bersama beberapa rekannya untuk mengikuti salat lail berjamaah di Masjid Raya Makassar.

“Saya datang lebih awal supaya bisa dapat tempat dan ikut rangkaian ibadah dari awal, karena suasana di sini terasa lebih hidup dan bikin semangat beribadah,” kata Akbar, Rabu, 11/03/2026.

Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar itu mengaku baru tahun ini sengaja memilih Masjid Raya sebagai lokasi itikaf bersama teman-temannya.

Menurut dia, pengalaman beribadah di masjid besar memberi kesan berbeda karena bisa merasakan kebersamaan dalam jumlah jamaah yang sangat banyak.

Ia menyebut suasana itu justru membuat dirinya lebih mudah menjaga fokus untuk beribadah dibanding ketika sendirian.

Pengalaman jamaah seperti Akbar memperlihatkan bahwa itikaf di masjid besar bukan hanya soal jumlah orang yang hadir.

Ada unsur rasa kebersamaan yang ikut dicari oleh jamaah, terutama anak muda yang ingin merasakan atmosfer ibadah kolektif pada malam-malam akhir Ramadan.

Di sisi lain, kehadiran kelompok usia muda juga menjadi sinyal positif bahwa kegiatan keagamaan di ruang publik masih punya daya jangkau kuat.

Bila dikelola konsisten, momentum seperti ini bisa menjadi pintu masuk untuk memperluas tradisi ibadah malam yang lebih tertib, terbuka, dan ramah bagi semua kalangan.

Itikaf Masjid Raya Makassar pada awal 10 malam terakhir Ramadan memperlihatkan antusiasme publik yang sangat tinggi dengan estimasi kehadiran mencapai 10 ribu jamaah.

Kehadiran dua imam asal Mesir, susunan ibadah yang padat, serta keyakinan jamaah terhadap keutamaan malam ganjil menjadi tiga faktor utama yang membuat suasana tahun ini terasa lebih istimewa.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *