Sulseltimes.com, Jakarta, Rabu, 21/10/2026 — CIMB Group Holdings Bhd dikabarkan menjajaki kemungkinan pembatalan pencatatan saham (delisting) anak usahanya PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
- CIMB Group menjajaki delisting BNGA karena saham dinilai undervalued
- Tiga opsi dipertimbangkan: penempatan strategis, re-IPO, atau privatisasi
- Privatisasi dinilai opsi paling strategis dan kredibel
- CIMB memegang 92,5% saham BNGA, nilai akuisisi diperkirakan Rp2,95–Rp3,84 triliun
- CEO CIMB Niaga Lani Darmawan belum memberi konfirmasi hingga kini
Induk CIMB Niaga, CIMB Group Holdings Bhd, tengah meningkatkan upaya untuk mengevaluasi langkah delisting dan berencana melakukan konsultasi dengan regulator terkait. Hal tersebut terungkap dalam catatan riset terbaru CIMB Investment Bank Bhd (CIMB IB) yang dilansir Reuters.
Menurut CIMB IB, langkah ini didasari pandangan bahwa saham CIMB Niaga masih terlalu rendah (undervalued). Di sisi lain, CIMB memiliki prospek positif jangka panjang mengingat kekuatan BNGA di pengelolaan kekayaan, perbankan korporasi, konektivitas ASEAN, segmen mass affluent, dan perbankan syariah.
Tiga Opsi Delisting dan Privilegi Minoritas
CIMB IB menyebutkan tiga opsi untuk memenuhi ketentuan free-float. Opsi pertama adalah penempatan saham ke investor strategis dengan valuasi yang dapat diterima. Opsi kedua adalah penawaran umum perdana kembali (re-IPO), yang dinilai sulit dalam kondisi pasar Indonesia saat ini. Opsi ketiga adalah privatisasi (go private), yang saat ini dianggap paling strategis dan kredibel.
CIMB IB menambahkan, terdapat skema yang memungkinkan pemegang saham minoritas mempertahankan kepemilikan saham pasca-delisting. Hal ini merujuk preseden yang pernah diterapkan pada CIMB Thai dan CIMB Bank Malaysia.
Aliran dividen dari CIMB Niaga ke grup induk tetap menjadi pertimbangan utama. Dengan rasio modal inti Tier 1 (CET1) sebesar 23 persen, CIMB melihat ruang optimalisasi modal menuju angka 20 persen, meski belum ada target resmi.
Soal merger dan akuisisi (M&A), CIMB tetap disiplin dan hanya terbuka untuk akuisisi berskala kecil (bolt-on) di bidang wealth management, UKM, dan Niaga Syariah. Transaksi berskala besar dikesampingkan.
Estimasi Biaya Akuisisi dan Dampak Modal
Dalam catatan terpisah, MBSB Investment Bank Bhd mencatat CIMB memegang 92,5% saham BNGA. Jika go private dilakukan pada harga 1.550 rupiah per saham, nilai akuisisi diperkirakan Rp2,95 triliun (RM670 juta). Dengan premi 30%, nilai naik menjadi Rp3,84 triliun (RM871 juta).
Estimasi tersebut berpotensi menurunkan rasio CET1 grup sebesar 18 hingga 23 basis poin dari posisi 13,9 persen. MBSB memperkirakan penurunan akan mendekati batas bawah kisaran tersebut.
CNBC Indonesia telah menghubungi Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan untuk konfirmasi, namun ia belum menjawab hingga kini.
Konteks: Komitmen Jangka Panjang di Tengah Kebijakan M&A
Kabar delisting ini muncul tidak lama setelah Group CEO CIMB Group, Novar Amirudin, menyatakan komitmen jangka panjang di Indonesia. Dalam wawancara Bloomberg bulan Juni, Amirudin menyebut pelemahan rupiah sebagai momentum tepat untuk masuk pasar Indonesia.
Amirudin menegaskan CIMB Group bukan investor jangka pendek dan terbuka tumbuh non-organik via M&A. Saat ini grup sedang mencari bisnis wealth management sebagai pelengkap CIMB Niaga, serta peluang bisnis tambahan lain yang melengkapi portofolio existing.
CIMB Group masih menunggu langkah konsultasi ke regulator dan keputusan lanjutan terkait rencana delisting tersebut.











